Fantasi Warak Ngendog Meriahkan HUT ke-469 Kota Semarang

200177

Semarang (7/5)  – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Semarang kembali dimeriahkan dengan kegiatan Semarang Night Carnival (SNC). Acara ini merupakan gelaran keenam sejak tahun 2011 saat Semarang merayakan HUT ke-464. Berbeda dengan tahun sebelumnya, SNC kali ini mengambil rute sepanjang 1,3 kilometer yang dimulai dari depan Gereja Santo Yusuf (Gereja Gedangan) Jalan Ronggowarsito menuju kawasan Gereja Immanuel (Gereja Blenduk) di Jalan Letjen. Soeprapto, dan berakhir di Jembatan Berok Semarang. Perubahan rute ini ditujukan untuk menapaktilas kembali wilayah Kota Lama Semarang.

Perayaan SNC kali ini mengambil tema Fantasi Warak Ngendog. Warak Ngendog merupakan hewan mitologi asli Semarang yang mencerminkan  akulturasi budaya di Semarang. Warak yang berarti suci dan ngendog artinya bertelur. Hal ini menggambarkan pahala yang diperoleh seseorang setelah menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Warak Ngendog memiliki bentuk kepala naga yang mencerminkan etnis Tionghoa, tubuh buroq yang menggambarkan etnis Arab, dan empat kaki kambing sebagai perlambang etnis Jawa. Ketiga etnis ini merupakan etnis utama yang membentuk kebudayaan Kota Semarang.

Fantasi Warak Ngendog ini diikuti oleh 800 peserta yang terdiri dari Drum Corps Perintis Cendrawasih Akademisi Kepolisian (Akpol) Semarang, Defile History SNC 2011-2015, Defile Warak Ngendog, defile SNC 2016, dan Defile tamu Jepara Fashion Carnaval. Defile Warak Ngendog terdiri atas defile tanduk ungu, gigi hijau, lidah merah, sisik kuning, dan harmoni warak.

SNC kali ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari warga Semarang. Hal ini terbukti dengan hadirnya sekitar 22.664 orang penonton dalam acara tersebut. Meskipun demikian, tingginya antusiasme tersebut juga menjadi kendala tersendiri bagi pihak panitia untuk melakukan kontrol terhadap penonton yang ingin memasuki clear area. “Blokade penonton hampir semuanya jebol. Antusiasme warga untuk melihat Semarang Night Carnival ini tinggi banget, padahal kita juga udah nerjunin lebih dari 200 personil,” ujar Iva, salah seorang panitia SNC. Selain itu, kendala juga dihadapi oleh cos-player SNC. Mereka dituntut untuk selalu tampil maksimal dalam hal pencarian bahan dan pembuatan kostum serta berlatih sebelum tampil dalam parade. “Kendalanya ya itu, persiapan. Banyak yang komplain kalau kurang maksimal,” ujar Fauzan, salah satu cost-player dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus).

Berbagai tanggapan pun datang dari penonton yang hadir mengikuti acara ini. Menurut Eko, salah seorang penonton, SNC kali ini kurang meriah dibandingkan dengan sebelumnya. “Dari tahun kemarin, lebih meriah tahun kemarin. Tahun ini lebih sedikit kayanya,” ujar Eko.

Reporter : Dara, Niki, Rismanto

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *