Upacara Penerimaan Mahasiwa Baru, Rektor: “Perploncoan Dan Radikalisme Tidak Ada Tempat Di Undip!”

Undip (7/8) – Kurang lebih 11.600 mahasiswa baru, delapan diantaranya berasal dari luar negeri, mengikuti Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Diponegoro Tahun Akademik 2017/2018 di Stadion Undip. Dimulai pukul 07.15 WIB, upacara dihadiri oleh Yos Johan Utama (Rektor Undip), wakil rektor, Sekretaris dan Wakil Sekretaris Universitas, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA), Dekan dan Dosen Fakultas, serta perwakilan dari Senat maupun Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Pada tahun ini, Undip menerima 11.630 mahasiswa baru yang terdiri dari 176 progam doktor, 1.093 program magister, 117 program spesialis, 25 program profesi, 7.990 program sarjana, dan 2.229 program diploma.

Upacara diawali dengan Rapat Senat Terbuka yang dipimpin oleh Sunarso (Ketua Senat Akademik Undip), dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) Rektor tentang Penerimaan Mahasiswa Baru oleh Kepala Biro Administrasi Akademik. Puncaknya adalah pelantikan mahasiswa baru oleh Yos Johan Utama secara simbolis, yaitu menyerahkan jas almamater dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) kepada 16 perwakilan mahasiswa. Pelantikan ditutup dengan pembacaan Sapta Prasetya Mahasiswa oleh peserta upacara.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Rektor Undip. Yos Johan Utama mengatakan bahwa di Universitas Diponegoro tidak ada lagi perbedaan asal daerah ataupun suku, yang ada hanya rakyat Indonesia. “Ada yang berasal dari Sumatra, ada yang dari Jawa, Bali, dari suku Batak dan suku lainnya. Tapi, kalau sudah di Undip yang ada hanya Rakyat Indonesia,” tuturnya. Upacara selesai sekitar pukul 08.45 WIB, ditutup dengan menyanyikan Hymne Undip dan pembacaan doa.

Ditemui di akhir acara, Yos mengatakan bahwa mahasiswa difabel diterima dengan terbuka di Undip. “Kita terbuka kok, karena Undip memang peduli dan melayani saudara kita yang memiliki keterbatasan,” ungkapnya. Rektor Undip tersebut menegaskan, siapa saja yang melakukan kekerasan dan perploncoan saat ospek akan mendapatkan sanksi sesuai hukum yang berlaku. Undip sendiri juga telah memiliki tim khusus untuk mengusut perploncoan. “Aturan kita sudah jelas. Dan kita kan tidak boleh memberi sanksi di luar hukum. Gimana? Kalau kita melakukan sanksi diluar hukum ya berarti kita yang melanggar hukum. Radikalisme (re: juga) tidak ada tempat di Undip. Kalau kita nemu ada yang melakukan, udah jelas kita drop out,” tegas Yos.

Reporter: Julian Karinena, Arvita Kusuma

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *