AIESEC Undip Kembali Gelar BRAVE Seminar

(BRAVE Seminar)
(BRAVE Seminar)

Undip (19/4) – Nadine Chandrawinata, Putri Indonesia 2005 hadir sebagai pembicara dalam BRAVE Seminar “Create Your Impactful Story” yang diselenggarakan oleh AIESEC Local Committee Undip pada Sabtu (19/4). Seminar yang digelar di gedung Prof. Soedarto ini turut menghadirkan Anindya Kusuma Putri (Presiden AIESEC Undip), Khaleed Hadi Pranowo (Former Purna Carka Muda Indonesia Jawa Tengah), serta Anindya Nastiti Restuviani (Youth Ambassador dari UNFPA).

Acara dibuka dengan penayangan film dokumenter dan sharing session bersama para ambassador AIESEC Undip yang telah mengunjungi berbagai negara dari 125 negara anggota AIESEC. Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi panel bersama Anindya Kusuma Putri, Khaleed Hadi Pranowo, serta Anindya Nastiti Restuviani yang saling berbagi pengalaman kepada peserta. Khaleed mengatakan bahwa menjadi ambassador tidaklah mudah dan merupakan tanggung jawab besar karena membawa nama baik Indonesia. “Negara kita sudah memiliki image yang buruk, kita harus meluruskan tentang image buruk ini, ya seperti menjelaskan kalau Indonesia masih memiliki banyak image yang baik,” paparnya. Senada dengan Khaleed, Anindya Nastiti yang akrab dipanggil Vivi juga mengatakan hal yang sama. Bahwa sudah menjadi tugas para pemuda Indonesia untuk meluruskan dan memperjelas bahwa Indonesia tidak hanya memiliki image buruk di mata dunia.

Antusiasme peserta tampak saat sesi tanya jawab dibuka. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan ialah pengalaman cultural shock yang dihadapi masing-masing panelis. “Culture shock yang saya alami adalah waktu yang begitu on time, dan sikap perilaku kita yang akan menjadi image bagi negara kita,” ujar Khaleed yang merupakan alumni FEB Undip. Hal berbeda disampaikan oleh Anindya Kusuma Putri. Ia menyatakan pekerja di negara lain begitu fokus melakukan tugasnya, berbeda dengan Indonesia. Tak lupa ia juga menceritakan pengalamannya ketika beribadah di Turki, “saat itu aku dan temanku sedang salat lalu ada ibu–ibu yang memeluk temenku sambil berkata, alhamdulilah masih ada yang salat.’ Aku sempet kaget, dan baru tahu kalau  banyak anak muda Turki yang jarang salat,” ujarnya.

Diakhir sesi, Vivi berpesan bahwa untuk menjadi ambassador harus memiliki kualitas, strategi, dan tujuan yang ingin dicapai. Ia berharap para calon ambassador memiliki tiga unsur penting, yaitu percaya diri, tidak pernah menyerah, dan selalu berusaha maksimal. Khaleed menambahkan agar para calon ambassador harus berjuang mencapai apa yang diinginkan, “Kesempatan tidak datang dua kali, maka kita harus mengejarnya sampai kita dapat,” tuturnya.

Memasuki diskusi panel kedua dengan panelis Nadine Chandrawinata. Nadine berpendapat bahwa untuk menjadi ambassador itu mudah sebab setiap manusia sudah menjadi duta bagi dirinya sendiri dan lingkungan disekitar. Ia berpesan agar para pemuda mencari kegiatan sebanyak mungkin untuk menggali kemampuan. Pun Nadine mengajak para peserta untuk tetap menjaga keseimbangan alam khususnya yang ada di Indonesia. Nadine berkata kepada peserta agar ambassador tidak hanya menjadi title, namun harus mampu melakukan sesuatu bagi lingkungan sekitar dan mengubah Indonesia kearah yang lebih baik lagi. “Kita harus lebih kerja keras untuk membuat Indonesia lebih baik agar tidak dipandang sebelah mata oleh negara lain dan tidak menjadi negara pencontek lagi. Kalau bukan pemuda siapa lagi yang dapat membuat bangsa ini bisa menjadi lebih baik,” tukas Nadine. (nq)

Reporter: Nungky dan Asti 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *