Aksi Bela Rakyat 121 Di Semarang Sempat Ricuh, Mahasiswa Kena Pentung

Semarang (12/1) – Para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Semarang Raya melakukan Aksi Bela Rakyat 121 sebagai bagian dari aksi serentak di 19 daerah Indonesia, Kamis (12/1). Aliansi tersebut terdiri dari mahasiswa Undip, Unnes, Unissula, Upgris, dan Polines. Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB di depan kantor Gubernur & DPRD Provinsi Jawa Tengah tersebut bertujuan menyuarakan tuntutan atas beberapa kebijakan pemerintah pusat di awal tahun 2017.

Aditya Nurullahi, Koordinator Lapangan Aksi menjelaskan bahwa tuntutan kali ini yaitu menolak penghapusan subsidi Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk rumah tangga golongan 900 VA. “Kebijakan ini akan berimbas bagi kehidupan mahasiswa sendiri. Baik itu nanti kenaikan harga kostan, atau kenaikan harga lainnya. Begitu juga sebagian besar rakyat yang mungkin akan terkena imbas dari kebijakan pencabutan subsidi listrik ini,” jelasnya. Tuntutan yang lainnya adalah menolak pemberlakuan PP no. 60 tahun 2016 mengenai kenaikan tarif dasar administrasi kendaraan bermotor, dan menolak kenaikan harga BBM yang bertentangan dengan Perpres no.191 pasal 14 tahun 2014.

Aksi berjalan tertib dan damai di luar pagar kantor. Para peserta aksi membentangkan spanduk-spanduk berisi aspirasi mereka, ada juga yang membawa bendera merah putih maupun bendera BEM universitas. Beberapa perwakilan mahasiswa maju untuk berorasi di depan masa. Pihak kepolisian pun lebih banyak berjaga dari sisi dalam pagar.

Kondisi mulai memanas saat tidak ada satupun perwakilan, baik dari pihak DPRD maupun pemerintah provinsi, datang menemui peserta aksi. Padahal menurut Koordinator Aliansi Semarang Raya, Jadug Trimulyo (Ketua BEM Undip 2017), pihaknya telah mengirimkan surat sehari sebelumnya kepada pihak DPRD. Para pimpinan BEM universitas yang mengikuti aksi akhirnya diperbolehkan polisi untuk bertemu langsung dengan anggota dewan maupun pemerintah di dalam gedung.

Koordinator Aliansi Semarang Raya, Jadug Trimulyo (Ketua BEM Undip 2017), ikut menenangkan masa setelah bentrok dengan kepolisian
Koordinator Aliansi Semarang Raya, Jadug Trimulyo (Ketua BEM Undip 2017), ikut menenangkan masa setelah bentrok dengan kepolisian

Para pimpinan BEM telah kembali, tapi kondisi masih tegang. Masa pun mulai mengondisikan diri untuk aksi teatrikal bakar ban. Polisi yang mengetahui hal tersebut langsung merangsek ke kerumunan masa menggunakan tameng dan tongkat. Bentrokan tak terelakkan, yang mengakibatkan beberapa mahasiswa memar dan luka ringan. Bentrokan hanya terjadi sesaat, setelah polisi menarik diri dan para pimpinan BEM serta korlap berhasil menenangkan masa. “Kedua belah pihak tersebut akan bisa kita temui kawan-kawan. Oleh karena itu kawan-kawan saya harap untuk tenang, karenan nanti akan ada perwakilan eksekutif, yang untuk mendengarkan aspirasi-aspirasi kita. Selain itu, InsyaaAllah nanti pimpinan dewan provinsi Jawa Tengah juga akan menemui kita,” seru Akhmad Fauzi dari Unnes.

Pihak pemerintah provinsi akhirnya turun menemui masa, diwakili oleh Heru (Biro Pemerintahan). Heru menerima berkas tuntutan masa dari Jadug dan berjanji akan meneruskannya ke pemerintah pusat. Pihak DPRD juga berkenan berdialog langsung dengan 20 perwakilan masa di Ruang Rapat Pimpinan DPRD Provinsi pada pukul 13.00 WIB.

M. Dias Saktiawan (Presiden BEM-PT Unissula) menyesalkan tindakan kepolisian saat pembubaran aksi teatrikal bakar ban. “Wujud protes kepada tindakan pemerintah, tapi teatrikalnya dibubarkan, tapi dengan cara dipukuli pake tongkat padahal mahasiswa ini dateng cuma bawa 3 tongkat namanya tongkat tiang bendera. Dan tongkat tiang bendera ini tidak mungkin untuk memukul karena kami tahu merah putih perlu dijunjung tinggi dan tidak boleh kena dengan tanah,” ungkapnya.

Reporter: Niki Agni Eka Putra M

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *