Aksi Bela Rakyat, Mahasiswa Se-Jabodetabek dan Banten Geruduk Istana Negara

20170112_130501[1]
Jakarta (12/1) –
Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan aksi unjuk rasa di 19 kota di Indonesia, tak terkecuali di Ibukota Jakarta. Aksi ini diikuti oleh ratusan mahasiswa dari perguruan tinggi se-Jabodetabek dan Banten. Mereka mendesak Presiden Joko Widodo agar mencabut kebijakan yang memberatkan rakyat kecil. Mereka menamakan aksi ini dengan ‘Aksi Bela Rakyat 121’.

Para mahasiswa berkumpul di depan pintu silang Monas Barat Daya. Sambil membawa spanduk berisi tuntutan, para peserta aksi menyanyikan lagu pembakar semangat seperti Totalitas Perjuangan,  Darah Juang,  dan Pengelana Dari Barat. Mereka kompak menyanyi sambil mengibarkan bendera merah putih dan panji masing-masing.

Pukul 13.30, mahasiswa bergerak menuju Istana Negara. Peserta aksi beberapa kali berhenti untuk mendengarkan orasi. Mereka sempat berhenti di depan Gedung Sapta Pesona (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). Mereka juga sempat berhenti di depan Gedung Mahkamah Konstitusi untuk menyambut peserta aksi yang baru datang.

Aksi Bela Rakyat 121 ini juga diwarnai dengan aksi teatrikal. Ada yang mengikat tangan dan ada yang memegang nampan berisi bawang dan cabai. Ada pula mahasiswa yang membawa replika keranda dan pocong-pocongan sebagai simbol rakyat yang menderita akibat kebijakan yang tidak pro rakyat kecil.

Sekitar pukul dua siang, peserta aksi tiba di depan Markas Besar (Mabes) TNI, namun langkah mereka terhenti oleh barisan pengamanan polisi. Polisi melakukan pengamanan dengan membuat pagar betis dilengkapi dengan tameng dan helm. Menurut pihak kepolisian, para peserta tidak diizinkan melakukan aksi di depan istana Negara, mereka hanya diizinkan melakukan aksi sampai di depan Mabes TNI.

Tak terima, mahasiswa mencoba menembus barikade dan mengakibatkan polisi dan mahasiswa sempat bersitegang. Namun, suasana kembali kondusif dan mahasiswa kembali ke posisi semula. Akhirnya, tiga orang perwakilan mahasiswa diajak berunding oleh pihak Istana, salah satunya adalah Bagus Tito Wibisono yang juga merupakan Koordinator Pusat BEM SI. “Kami sedang mencoba me-lobby  Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara –red), karena katanya Pak Jokowi sedang ada rapat terbatas. Setelah itu, kami meminta presiden untuk mengubah kebijakan sekarang juga,” ungkap Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta ini.

Menjelang magrib, Bagus keluar dan menyatakan bahwa ketiga perwakilan mahasiswa hanya bertemu dengan Teten Masduki selaku Kepala Staf Kepresidenan. “Jika 90 hari ditemukan pelanggaran, maka reformasi jilid dua akan segera ditegakkan,” ujar Bagus.  Teten menandatangani empat poin nota kesepahaman, yang berisi :

  1. Pemerintah menjamin tidak akan terjadi kelangkaan BBM bersubsidi di SPBU seluruh Indonesia
  2. Dampak kenaikan BBM non-subsidi tidak akan menyebabkan kenaikan harga pokok lainnya dan pemerintah menjamin itu.
  3. Pemerintah menjamin kenaikan tarif dasar listrik untuk 300VA dilakukan untuk kepentingan rakyat dan tepat sasaran. Jika tidak tepat sasaran dapat dilaporkan ke PLN dan akan mendapatkan subsidi.
  4. Kenaikan tariff STNK dan BPKB digunakan untuk meningkatkan pelayanan kepolisian dan ada sosialisasi pelayanan seperti  apa yang ingin ditingkatkan. Dalam hal ini pemerintah menjamin itu.

Reporter : Akhmad Sadewa

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *