Bela Warga Kendeng, GMPK ‘Geruduk’ Gubernuran untuk Ketiga Kalinya

foto aksi

Semarang (16/1) – Aliansi mahasiswa Semarang yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembela Kendeng (GMPK) kembali melancarkan aksi unjuk untuk membela hak masyarakat Kendeng. Terhitung, aksi ini adalah aksi yang ketiga setelah aksi yang sebelumnya dilakukan pada tanggal 6 dan 9 Januari 2017.

Aksi yang dimulai pada pukul 10.00 WIB ini diawali dengan short march oleh mahasiswa dan dilanjutkan dengan bersalaman dengan warga Kendeng tepat di depan kantor Gubernur Jawa Tengah.

Diwarnai dengan orasi mahasiswa dari berbagai universitas, aksi ini berisi tuntutan agar Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah mematuhi putusan MA Nomor 99/PTUN/2016. Adapun putusan MA ini berisi tentang pencabutan izin lingkungan atas pabrik semen PT. Semen Gresik, Tbk. (sekarang menjadi PT. Semen Indonesia, Tbk.). Mereka juga menuntut agar dua orang perwakilan dari tiap-tiap universitas diizinkan untuk masuk ke dalam gedung dengan tujuan melakukan audiensi bersama dengan pihak perwakilan Gubernur dilanjutkan dengan menandatangani nota kesepahaman.

Isi dari nota kesepahaman tersebut berisi bahwa, Gubernur Jawa Tengah harus mencabut SK Gubernur Jawa Tengah Nomor 660/17 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan dan Pembangunan Pabrik Semen oleh PT. Semen Gresik, Tbk. (PT. Semen Indonesia, Tbk.)  di Kabupaten Rembang sesuai putusan MA Nomor 99 PK/TUN/2016.

Upaya lobbying pun telah diusahakan dengan giat dengan para polisi yang berjaga agar mereka dapat diizinkan masuk dan melakukan audiensi. Setelah melalui proses negosiasi yang cukup alot, akhirnya 20 perwakilan dari mahasiswa diizinkan untuk masuk.

Sesampainya di dalam gedung, perwakilan dari para mahasiswa bertemu dengan Bambang Herwanto, Kepala Bagian Pemerintahan. Namun, Bambang menolak untuk menemui massa di luar dan juga menolak menandatangi nota kesepahaman yang diajukan oleh para demonstran. “Saya tidak mendapat mandat dari Gubernur,” ujar Bambang. Tetapi, Bambang berjanji untuk menyampaikan nota kesepahaman tersebut kepaada Gubernur.

Hingga pada pukul 12.00 WIB, para demonstran memutuskan untuk duduk di depan gerbang kantor Gubernur Jateng dan melakukan aksi teatrikal dari masing-masing universitas sebagai simbol terhadap ketidakseriusan pemerintah dalam memelihara lingkungan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Aksi ini juga dilengkapi dengan properti tiruan dari keranda bertuliskan “Matinya Nurani Ganjar.”

Satu setengah jam kemudian, tuntutan mahasiswa yang meminta agar perwakilan dari pihak Gubernur Jateng akhirnya dikabulkan.  Beliau selaku seorang perwakilan pihak eksekutif Gubernur Jateng melakukan aksi dengan mahasiswa dengan menerima semen di atas sebuah piring sebagai simbol penolakan pembangunan dan kegiatan operasi pabrik semen.

Puncak aksi ini terjadi pada pukul 14.30, peserta aksi pada hari ini membubarkan diri dan menutup acara dengan kembali bersalaman dengan warga Kendeng. Aksi lanjutan akan digelar pada tanggal 17 Januari 2017 bersama elemen buruh dan warga Jateng yang menolak pembangunan dan kegiatan operasi pabrik semen.

 

Reporter: Arsenio Wicaksono

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *