Analisis APBN 2013-RAPBN 2014 Bersama Kemenkeu

Semarang (10/10) Seminar nasional diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) bekerjasama dengan Universitas Diponegoro (Undip). Peserta dari berbagai kalangan seperti pejabat di lingkungan kementerian keuangan, pemerintah daerah Kota Semarang, para akademisi, maupun mahasiswa menghadiri seminar tersebut. Bertajuk “Kebijakan Fiskal 2013 dan Perkembangan Ekonomi Terkini”, seminar diselenggarakan pada Kamis (10/10).
Acara dibuka secara simbolis oleh Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB)Undip, Mohamad Nasir. Dalam sambutannya, Nasir berpesan, “Ekonomi Indonesia akan jadi lebih baik, walaupun para pejabat sedang terkena masalah korupsi”. Melalui seminar tersebut ia berharap dapat memberikan pencerahan bagi regional economic dan memberikan informasi riil agar tidak terjadi deviasi.

Edy Slamet Irianto, dari direktorat Jenderal Kementerian Keuangan, berharap, “Perekonomian akan lebih efektif apabila ada informasi yang lengkap di daerah. Indonesia harus optimis terhadap guncangan ekonomi global”. Ia pun berpesan, dengan membangun komunikasi di daerah akan memberikan dampak positif antara daerah dengan Kemenkeu di daerah. Edy menambahkan, perlunya alokasi dana untuk pemgembangan penelitian di daerah guna memberikan informasi dan formula kebijakan yang sesuai. Sekertaris Gubernur bidang perekonomian, Dadang Sumantri juga memberikan penjabaran mengenai prospek dan tantangan pembangunan perekonomian Jawa Tengah saat menyampaikan sambutannya.

Seminar yang diadakan di di Gumaya Tower Hotel, Semarang diawali dengan penyampaian materi oleh keynote speech dari Kemenkeu, Boediarso Teguh Widodo, staf ahli bidang pengeluaran negara ekonomi makro. Ia memberikan penjelasan mengenai Regional Economic Sebagai Katalisator Nasional. Boediarso berharap adanya pengembangan potensi ekonomi daerah sebagai akselerasi perekonomian daerah yang tercakup pada lima pilar penting.

“Semoga jaringan yang dibangun daerah yang diwadahi antara Undip dengan Kemenkeu pusat dapat memberikan informasi yang jelas. Sehingga diperlukan sinergi yang akan memberikan output yang maksimal bagi daerah”, imbuh Boediarso. Menurutnya pertumbuhan ekonomi dunia yang mencapai angka 3,2% berimplikas dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menyentuh angka 6,2% pada tahun 2012. Sehingga Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua pada G-20. Adanya guncangan perekonomian global, memberikan tekanan bagi perekonomian Indonesia, baik dari sisi penerimaan maupun belanja. Sehingga dikeluarkannya paket kebijakan ekonomi untuk merespon gejolak ekonomi global. Melalui stimulasi fiskal akan lebih efektif dengan kebijakan pajak.

Seminar yang dimoderatori oleh Indah Susilowati (dosen Undip) mengantarkan pada pokok pemateri, yaitu Rofyanto Kurniawan, Kepala Pusat Kebijakan APBN-Badan Kebijakan Fiskal. Ia menyampaikan materi bertemakan Perkembangan Ekonomi Terkini dan Dinamika APBN-P 2013 – RAPBN 2014. Kemudian dilanjutkan dengan pembicara kedua, yaitu Firmansyah, dosen FEB Undip, dengan tema Perkembangan Ekonomi Kabupaten/Kota dan Kinerja Keuangan Daerah di Jawa Tengah pada Era Otonomi. Pembicara ketiga ialah Putut Hari Satyaka, Kepala Sub Direktorat Evaluasi Dana Desentralisasi dan Perekonomian Daerah, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, dengan topik “Hambatan dan Tantangan Pelaksanaan DAK (Dana Alokasi Khusus). Acara yang ditutup dengan diskusi dan tanya jawab, memberikan suatu kesimpulan dan pencerahan bagi stakeholder, bahwa dalam membangun perekonomian harus dengan resep yang unik. (hya)

Reporter: Ina Irawanti
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *