Angkat Isu Pendidikan, Aliansi Suara Undip Helat Diskusi dan Nobar Film

Undip (21/02) – Bertempat di pelataran Student Center Undip, Aliansi Suara Undip (ASU) menghelat kegiatan diskusi serta nonton bareng (nobar) film “Ivory Tower”. Hadir sebagai pembicara yaitu Mahendra Pudji Utama bersama Arido Laksono.

Diskusi kali ini mengangkat isu mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, terutama bidang pendidikan tinggi. Isu tersebut coba dijelaskan melalui film “Ivory Tower” yang dipertontonkan kepada khalayak peserta. “Ivory Tower” yang disutradari oleh Andrew Rossi pada tahun 2014 menceritakan bagaimana mahalnya kuliah di Amerika Serikat yang naik berlipat-lipat hingga 1000% sejak tahun 1978. Bahkan kenaikan dari hutang pinjaman mahasiswa (student loan debt) di Negara Paman Sam tersebut lebih besar dari kenaikan semua hutang kartu kredit para warganya.

Arsenio Wicaksono sebagai ketua pelaksana mengungkapkan bahwa acara ini tidak dirancang oleh suatu lembaga yang struktural, melainkan dari mereka yang memperhatikan isu pendidikan khususnya di ranah perguruan tinggi. “Di perguruan tinggi biaya pendidikan semakin mahal. Ibarat pendidikan hanya untuk si kaya, dan si miskin semakin tertutup kesempatannya,” ungkap mahasiswa jurusan Akuntansi tersebut.

Riska Vinanda, peserta diskusi dari jurusan Instumentasi dan Elektronika menilai bahwa dengan adanya acara ini menunjukkan masih ada rasa kepedulian tentang isu pendidikan. Ia berharap agar ke depannya acara seperti ini bisa lebih ramai dan menarik minat orang. “Sudah baik, namun harus lebih mampu menarik penontonnya, agar lebih ramai,” jelas Vina.

Arsenio sendiri mengharapkan agar kesadaran teman-teman mahasiswa mengenai isu ini bisa lebih baik. “Semoga mahasiswa bisa lebih mudah untuk saling berkumpul dan saling berdiskusi, paling penting harus bisa membaca. Intinya harapan untuk peran kesadaran mahasiswa harus lebih tinggi karena ini ranah yang kita rasakan.”

ASU sendiri, tambah Arsenio, juga memiliki agenda mingguan yaitu taman baca yang berfungsi sebagai media membangun kesadaran membaca dan berdiskusi, terlebih mengenai ranah pendidikan. ”Baca buku kuliah saja kurang apalagi buku-buku lain di luar peredaran buku kurikulum. Saya rasa perlu untuk kita berdiskusi berkumpul dan saling bertukar pikiran, karena salah satu cara mewujudkan iklim baru yang lebih baik,”

Reporter: Sigit Nugroho, Sri Aida Fitriani

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *