Arodes 2017 Angkat Tema Harmoni Budaya Semarang

Sumurboto (2/12) – Bertempat di Aula Kelurahan Sumurboto, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Undip angkatan 2015 telah berhasil menggelar acara Arodes 2017. Acara ini merupakan suatu bentuk pertunjukan budaya asli Semarang, yang digarap bersama dengan Karang Taruna Setiabudi Sumurboto. Dan tidak ketinggalan juga, beberapa stand bazar dan pembagian hadiah turut menghiasi acara ini juga.

Acara ini dibuka dengan sambutan oleh Zulfikar Lintang selaku Ketua Panitia Arodes 2017, dan juga Rene Hanidani, Ketua Karang Taruna Setiabudi Sumurboto. Dalam acara ini dipertontonkan beberapa pertunjukan seni seperti Tembang Jawa, Tari Zapin Arab, Tari Gambang Semarang, Teatrikal Sampek & Engtay, dan Tari Warak Dugder. Keberlangsungan acara ini turut dihadiri oleh beberapa mahasiswa dan warga setempat.

Zulfikar mengungkapkan bahwa adanya acara ini berangkat dari tugas mata kuliah Manajemen Pertunjukan dan Kesenian, yang mengharuskan dia beserta teman-teman satu angkatannya menyelenggarakan acara ini. “Yang jelas itu untuk mempraktekan mata kuliah Manajemen Pertunjukan dan Kesenian. Itu memang dari dosennya sendiri minta kita untuk bikin acara, agar istilahnya mata kuliah Manajemen Pertunjukan dan Kesenian itu bisa langsung diterapkan oleh mahasiswa-mahasiswa,” jelas Zulfikar.

Pengangkatan tema “Harmonisasi Budaya Semarang” didasarkan pada keadaan masyarakat Indonesia yang belakangan ini sempat mengalami perpecahan. “Kita angkat Arodes ini yang artinya saudara, sebenernya kita ingin menunjukan bahwa kita ini satu, saudara. Kita ini walaupun berbeda etnis, berbeda warna kulit, kita ini tetep satu, tetep saling merangkul,” pungkas Zulfikar.

Zulfikar juga berpendapat supaya dengan adanya acara Arodes ini, warga setempat bisa lebih membuka pola pikirnya untuk saling menghargai. Melalui acara ini, ia ingin menunjukan bahwa sebenarnya kita ini semuanya sama, tidak ada yang baik, dan tidak ada yang buruk.

Dalam persiapannya, acara Arodes 2017 sempat menemui beberapa kendala. Masalah utama yang diungkapkan oleh Zulfikar adalah perihal listrik. Dikarenakan listrik di Kelurahan Sumurboto tidak memadai untuk acara Arodes ini. Namun pada akhirnya, pihaknya mampu mengatasi hal tersebut dengan menggunakan metode Lost Stroom guna menyiasati masalah yang ada. Memakan waktu sekitar hampir tiga minggu untuk mempersiapkan acara ini. Pada saat hari H acara pun, Arodes tidak terhindar dari kendala. “Untuk kendala hari H, pas awal-awal acara penonton itu kayak belum banyak, masih sepi. Tapi setelah pertengan sampai akhir para warga, para mahasiswa sudah mulai datang, jadi alhamdulillah ramai,” terang Zulfikar.

Ia juga menjelaskan tentang sistem penilaian yang ada pada acara ini. Zulfikar menuturkan jikalau untuk penilaian terhadap teman-temannya, dia selaku ketua panitia yang menilai. Penilaian tersebut didasarkan pada absensi, keaktifan, dan keberlangsungan kerja panita saat hari H. “Tapi kalau saya sendiri sebagai ketua, yang menilai angkatan,” tambahnya.

Zulfikar berharap agar setelah berlangsungnya acara ini, penonton mampu lebih membuka pemikirannya kembali tentang persaudaraan. Dan mengharapkan keakraban dan kekompakan terus terjalin dalam teman-teman angkatannya sendiri. (fn)

Reporter: Dirga Ardian Nugroho, Julian Karinena Berlianti

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *