Berkunjung ke Undip, Sri Mulyani Sampaikan Pentingnya Membangun Pondasi Ekonomi Indonesia

Undip (9/4) – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-58 FEB Undip, diselenggarakan Kuliah Umum bersama Sri Mulyani Indrawati. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara di samping Jalan Sehat dan Panggung Seni yang telah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Dalam kuliah umumnya, Sri Mulyani menyampaikan betapa pentingnya membangun pondasi ekonomi Indonesia di masa mendatang. Acara yang berlangsung di Gedung Profesor Soedarto ini dihadiri oleh peserta dari Undip maupun luar Undip.

Acara diawali dengan sosialisasi dan simulasi dari Direktorat Jenderal Bea Cukai tentang mekanisme pencarian barang-barang sejenis psikotropika dengan anjing pelacak. Selanjutnya, acara ini dibuka secara langsung oleh Yos Johan Utama selaku Rektor Undip. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam pembenahan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia. Dirinya juga menyampaikan ucapan selamat kepada FEB Undip atas segala pencapaiannya selama 58 tahun.

Kuliah umum bersama Sri Mulyani ini dimoderatori secara langsung oleh Suharnomo, Dekan FEB Undip. Di awal penyampaian materinya, Sri Mulyani menjelaskan bahwa adanya revolusi industri memerlukan waktu sekitar 30-100 tahun. Tapi di era sekarang, revolusi industri yang dibarengi dengan pesatnya kemajuan teknologi dapat terjadi hanya dengan waktu sekitar 5-10 tahun. “Yang disebut industrial revolution today, dengan technological changes itu hanya bisa berjalan dalam kurun 5 sampai 10 tahun. Artinya kalau kalian sekarang masih dalam usia 20 atau 25 tahun, it’s your life chance, dalam kehidupan anda memiliki kemungkinan untuk menghadapi suatu perubahan yang sangat radikal di dalam perubahan teknologi yang di bawa ke dunia ini. Luar biasa,” jelas Sri Mulyani.

Sri Mulyani juga menyinggung perihal Revolusi Industri 4.0 yang mampu memunculkan berbagai macam penemuan seperti robot, otomatisasi, artificial intelligence, dan internet of things. Konsep manufaktur dengan adanya Revolusi Industri 4.0 akan mengurangi kuantitas tenga kerja dalam memproduksi barang atau jasa. Hal tersebut disebabkan pekerjaan manual yang dilakukan oleh manusia akan tergantikan perannya oleh robot. “Dari 257 juta populasi penduduk Indonesia, 110 juta tenaga kerja mayoritas masih berpendidikan SD dan SMP. Dan mereka biasanya masih mengerjakan pekerjaan manual, itu adalah yang akan terancam oleh otomatisasi,” pungkas Sri Mulyani.

Di akhir penyampaian materinya, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa ada 4 poin penting dalam membangun pondasi ekonomi Indonesia guna menyongsong tahun 2045, diantaranya adalah kualitas manusianya, pembangunan infrastruktur, kualitas lembaga pemerintah maupun swasta, dan kebijakan. Ia berharap agar Undip mampu ikut memberi solusi dan membangun pondasi bagi perekonomian di masa mendatang.”Saya berharap Undip sebagai suatu civitas akademika merupakan institusi lembaga pendidikan yang mampu ikut menjadi pemberi solusi membangun pondasi ekonomi. Menyiapkan manusia, membangun lembaga yang baik, men-train atau mengajarkan policy yang baik, yang buruk dihindari. Dan menjadi lembaga yang kredibel dan memiliki integritas serta kualitas yang baik,” ujar Sri Mulyani.

Pada kuliah umum ini, pihak BEM Undip memberikan kotak aspirasi perihal pembangunan ekonomi di Indonesia kepada Sri Mulyani. Tak usai sampai di situ saja, dalam sesi tanya jawab terjadi insiden menarik yang melibatkan Ketua BEM Undip, Abdurrohman Hizbulloh. Ia menanyakan beberapa hal terkait utang negara Indonesia, kemampuan cadangan devisa guna melunasi utang negara, dan penetapan peraturan mengenai Tenaga Kerja Asing. Dalam penyampaiannya perihal utang, dirinya menyebutkan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) senilai 28 persen. Menanggapi hal tersebut, Sri Mulyani langsung mengoreksi atas apa yang telah diucapkan Aab. “Tadi anda menyebutkan maksimum utang hanya 28 persen, itu undang-undang kita, maksimum utang terhadap GDP adalah 60 persen,” tutur Sri Mulyani. Kendati demikian, Sri Mulyani mengapresiasi pihak BEM Undip yang telah menyampaikan hal tersebut, namun ia menekankan agar BEM Undip lebih memperhatikan detail suatu permasalahan. “I don’t like people yang ngomongnya di dalam policy hanya ngomongin headline gitu. Let’s discuss the detail,” tutup Sri Mulyani.

Reporter: Dirga Ardian Nugroho

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *