Bertajuk Ekonomi Kreatif, KESMES FEB Undip Selenggarakan Diskusi Publik

IMG_9364

Semarang (3/9)― Bertempat di Gedung Gradika Bakti Praja, Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (KESMES) FEB Undip menyelenggarakan Diskusi Publik yang bertajuk Orange Economy atau yang kita kenal sebagai Ekonomi Kreatif. Acara yang merupakan agenda tahunan dari KESMES ini dimulai pukul 08.00 – 13.30 WIB. Acara ini turut mengundang Kepala Direktorat Informasi Pengolahan Data Ekonomi Kreatif, Slamet Aji Pamungkas ; Akademisi FEB Undip, Ahmad Syakir Kurnia ; Kepala Komunikasi dan Informatika Kota Pekalongan, Sri Budi Santoso ; Masduki selaku pendiri Omah Pohong ; Pendiri D-Tech Engineering, Arfian Fuadi ; serta Firmansyah (akademisi FEB UNDIP) selaku moderator.

Slamet Aji Pamungkas memaparkan bahwa nyatanya Ekonomi Kreatif merupakan salah satu penyumbang terbesar yang menjadi penunjang perekonomian Indonesia. Slamet mengatakan bahwa banyak sekali ide-ide kreatif dari berbagai sektor di Indonesia yang menjadi potensi besar untuk mendukung kuatnya perekonomian Indonesia.

Ahmad Syakir Kurnia bahwa asal muasal Ekonomi Kreatif berasal dari kreativitas, dimana kreativitas ini merupakan instrumen penting untuk membangun peradaban baru di masa mendatang. “Kreatif itu adalah sebuah hadiah untuk masa depan. Kita semua sama, memiliki sepuluh tangan, tapi yang membedakan adalah ada beberapa di antara kita yang dapat menghasilkan ide-ide kreatif dari sepuluh tangan tersebut dan membuat kita berpikir ‘kok bisa ya kepikiran sampai ke situ’,” Ujar Syakir.

Membahas tentang kreativitas, tentu pada diskusi ini tidak terlepas dari pembahasan mengenai Kota Pekalongan yang menjadi Kota Kreatif UNESCO pada tahun 2014 silam. Kota Pekalongan terkenal dengan komoditi batiknya yang mendunia. Sri Budi Santoso menjelaskan bahasan bahwa ada banyak sekali  pengrajin batik Pekalongan yang tersebar di Indonesia. Walaupun berdagang di Kota Solo atau Semarang, namun para pebatik tersebut mayoritas berasal dari Kota Pekalongan.

Salah satu perwujudan dari Ekonomi Kreatif yang dihadirkan  dalam Diskusi Publik ini adalah D-Tech Engineering yang didirikan oleh Arfian Fuadi. Arfian yang merupakan lulusan dari SMKN 7 Semarang ini mengatakan bahwa hingga saat ini, bisnisnya telah melayani lebih dari 120 klien dari seluruh dunia, dan telah menangani lebih dari 150 proyek sejak pertama kali berdiri. Sementara Masduki selaku pendiri Omah Pohong memaparkan usahanya yang bergerak di bidang pengolahan hasil pertanian berbahan dasar singkong yang berasal dari Desa Kandri.

Topik diskusi ini mengundang beragam opini dari peserta, salah satunya datang dari Muhammad Farhan. Mahasiswa FEB Undip ini menyayangkan apresiasi masyarakat terhadap ide dan kreasi seseorang masih sangat kurang. “Menurut saya masih banyak orang-orang yang menjiplak ide orang lain untuk keuntungannya sendiri dan menganggap kreasi Indonesia itu jelek. Namun pemerintah Indonesia pun sudah turut membantu dalam bentuk regulasi dan imbauan untuk mencintai produk Indonesia,” tuturnya

Dengan adanya Diskusi Publik ini diharapkan dapat membuka mata masyarakat Indonesia bahwa kreativitas dan ide adalah aset yang sangat berharga. Denny Osman Junior, selaku Ketua Panitia Diskusi Publik ini menyatakan bahwa pada dasarnya ada banyak sekali aset-aset kreatif yang belum terangkat di Indonesia seperti halnya kesenian, kuliner dan objek wisata yang sangat berlimpah. “Harapannya sih semoga pada Diskusi Publik ini KESMES dapat memberikan efek positif, sehingga generasi muda di Indonesia ke depannya dapat mengeluarkan ide-ide kreatif yang berguna tidak hanya di Indonesia, namun juga dunia,” pungkas Denny.

 

Reporter : Fana Mustika Insanu

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *