Bincang Seru Bahas Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN

PicsArt_04-21-01.41.44

FEB Undip (20/4) – Sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 1 Januari 2016 lalu, banyak pro dan kontra bermunculan menanggapi hal tersebut. Untuk itu, Kelompok Studi Masalah Ekonomi (KESMES) Fakultas Ekonomika dan Bisnis gelar diskusi terbuka terkait pemberlakuan MEA. Bertempat di Gedung Pusat Kegitan Mahasiswa (PKM) lantai 2, Diskusi bertajuk Bincang Seru (Biru) ini dibuka oleh Rizal Hari Magnadi selaku Staff Ahli Bidang Akademik.

Acara dimulai pukul 10.00 dan dihadiri oleh beberapa perwakilan Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) kelompok studi. Adapun UPK yang turut menjadi pembicara adalah Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM), Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI), Kelompok Mahasiswa Wirausaha (KMW),  serta Economics Financial Study (ECOFINSC). Bincang Seru kali ini dipandu oleh Ari Nugroho (Mawapres 1 FEB Undip 2016) selaku moderator.

MEA adalah kerjasama antar negara-negara ASEAN dengan memberlakukan perdagangan bebas barang dan jasa di kawasan ASEAN. Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi menjadi sorotan utama selain modal (kapital) di era MEA ini. Tingkat profesionalisme tenaga kerja Indonesia masih rendah. Bahkan kemampuan lulusan perguruan tinggi dalam negeri masih diragukan.

Dalam diskusi, KSEI mengungkapkan bahwa Indonesia masih kalah dengan Malaysia yang selalu menduduki peringkat pertama dalam bidang kepariwisataan. Pemerintah perlu mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) guna membekali tenaga kerja Indonesia dalam hal skill, sikap, keterampilan komputer, dan bahasa asing. Peningkatan sertifikasi halal terhadap barang dan jasa di Indonesia yang masih sekitar 40% juga perlu ditingkatkan. Pembukaan program studi baru seperti perhotelan menjadi salah satu misi yang ditawarkan KSEI dalam menghadapi MEA.

Di lain sisi, KESMES mengutarakan bahwa perlu adanya perubahan sistem pendidikan formal maupun non formal ke arah spesifikasi yang tidak memberatkan. Apabila sistem pendidikan diubah seperti sistem di luar negeri, besar kemungkinan SDM Indonesia akan lebih matang.

Bagas Andriyanto selaku ketua panitia menuturkan bahwa kurang kompetitifnya tenaga kerja di Indonesia menjadi salah satu dasar diadakannya acara ini. Pihaknya juga mengungkapkan bahwa dengan banyaknya angkatan kerja di Indonesia dan dengan adanya MEA membuat kekhawatiran tersendiri dalam pasar tenaga kerja di Indonesia.

Penyelenggaraan acara ini mendapat apresiasi dari mahasiswa. “Acaranya berguna banget, itu nggak cuma diskusi tentang masalahnya, tapi juga solusinya”, ungkap Natasya salah satu peserta. Tanpa adanya MEA, Indonesia tidak akan terpacu untuk bangkit dari kondisi stagnasi. MEA membantu Indonesia meningkatkan kemampuan diri dan mencapai kemakmuran materi.

Reporter : Desi Wulansari

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *