Dalam Genggaman “Sebuah Komponen” Penentu Masa Depan

Oleh: Dewi Hastuti*

Keberadaan generasi penerus merupakan salah satu faktor penting, terlebih bagi keberlangsungan suatu bangsa. Menjadi salah satu faktor penting penentu nasib bangsanya, generasi penerus pastinya berhak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Gizi seimbang adalah salah satunya.

Gizi merupakan suatu komponen penentu cikal bakal dari keberlangsungan nasib generasi penerus bangsa. Keberadaan kualitas gizi tampaknya sudah menjadi parameter utama penentu kesehatan generasi penerus bangsa. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kualitas gizi suatu generasi penerus bangsa nantinya akan sangat berpengaruh terhadap prestasi dari bangsa tersebut. Apabila kualitas gizi generasi penerus bangsa tergolong baik, maka besar kemungkinan bahwa masa depan bangsa tersebut akan baik pula nantinya. Namun apabila tidak, maka bukan berarti kualitas bangsa tersebut tidak baik, tetapi kecil kemungkinan bahwa nantinya bangsa tersebut akan digolongkan menjadi bangsa yang baik.

Perlu diketahui sebelumnya, menurut pengertian secara harafiah, gizi atau nutrisi merupakan suatu zat yang berguna sebagai komponen pembangun tubuh manusia untuk mempertahankan maupun memperbaiki jaringan-jaringan tubuh agar fungsi tubuh manusia itu sendiri dapat berjalan sebagaimana mestinya. Maka dari itu, gizi mejadi hal krusial yang perlu diperhatikan oleh masyarakat, terlebih orang tua maupun pemerintah. Sejatinya baik buruknya prestasi suatu bangsa bisa jadi ditentukan oleh keadaan kualitas gizi generasi penerusnya.

You are what you eat merupakan slogan yang mungkin sudah kerap terdengar di telinga kita. Slogan tersebut sepertinya dapat mengingatkan mengenai kondisi kesehatan kita kelak terhadap apa yang kita makan saat ini maupun di masa yang lalu. Tentunya hal tersebut membuktikan bahwa adanya komponen gizi sebagai penentu masa depan bangsa.

Era globalisasi menjadi saksi perubahan ukuran kualitas gizi yang semakin lama semakin bertambah. Seperti tidak ada habis-habisnya, indikator kualitas gizi ditetapkan. Hal tersebut diiringi dengan kebutuhan kualitas gizi generasi milenial yang semakin bertambah tidak sebanding dengan maraknya kemiskinan yang membuat banyak generasi penerus mengalami kekurangan dalam pemenuhan gizi.

Tepatnya di negara ini dan negara berkembang lainnya, kemiskinan dan kecukupan gizi menjadi suatu ikatan yang erat sehingga amat susah untuk dilepaskan. Pemerintah pun sudah berusaha untuk melepaskan ikatan tersebut. Namun apa daya yang terjadi malah semakin bertambah juga angka kekurangan gizi yang ada di negara ini. Para ahli pun menyatakan bahwa jutaan anak berusia di bawah lima tahun banyak yang mengalami permasalahan gizi ganda, yang berarti anak tersebut memiliki gizi lebih dan kurang. Sebagian anak dinyatakan mengalami kondisi obesitas dan sebagian lainnya dinyatakan mengalami stunting atau tubuh pendek, kurus, hingga gizi buruk. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, 18,8% balita usia 0-5,9 bulan mengalami kekurangan gizi. 29% lainnya mengalami stunting akibat kurang gizi menahun. Sementara di sisi lainnya, terdapat 1,6% balita yang mengalami obesitas.

Generasi penerus kini tidak hanya dihadapkan dengan perkembangan teknologi saja, tetapi juga permasalahan gizi yang marak terjadi. Apabila masalah klasik mengenai kecukupan gizi tersebut belum sepenuhnya dapat diatasi oleh pemerintah, alangkah baiknya kita sebagai masyarakat memulai untuk memanfaatkan kekayaan hayati yang ada di negeri ini. Pastinya sebagai negara yang dikaruniai kekayaan hayati yang berlimpah, ada baiknya para orang tua, khususnya keluarga di negeri ini untuk membiasakan pola konsumsi seimbang. Tak lupa juga untuk membiasakan makan makanan sehat serta berolahraga yang diterapkan oleh anggota keluarganya terkhusus generasi penerus bangsa yang ada di keluarga tersebut.

Dinas-dinas terkait serta para ahli kesehatan pun secara rutin ikut mengkampanyekan mengenai kesadaran gizi pada keluarga di Indonesia. Keluarga sebagai lingkup sosial terdekat seorang generasi penerus diharapkan untuk menerapkan prinsip gizi seimbang bagi anggota keluarganya. Hal ini termasuk juga dengan membiasakan makan makanan bergizi serta diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup.

Diharapkan dengan adanya hal tersebut, tidak menjadi alasan bagi kualitas gizi yang kurang, terutama bagi bangsa ini. Apalagi bangsa ini dihadapkan dengan tingkat kemiskinan yang semakin lama semakin menjadi. Alangkah baiknya, bukan hanya pemerintah saja yang ikut turun tangan dengan masalah klasik ini, tetapi kita sebagai masyarakat di negeri ini juga patutnya berpartisipasi membantu pemerintah untuk menangani hal ini. Hal kecil yang kita lakukan tentunya akan berdampak besar terhadap kelangsungan masa depan bangsa.

 

*Penulis adalah mahasiswi FEB Undip

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *