Defest 2014, Mengungkap Sumber Daya Kelautan dan Energi Indonesia

Sudharto P. Hadi menjelaskan bahwa peningkatan optimalisasi sumber daya kelautan merupakan hal yang perlu ditindak lanjuti karena laut Indonesia mempunyai potensi besar dibandingkan dengan laut yang ada di negara lain

 

Semarang (11/10) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Undip kembali mengadakan Defest (Diponegoro Economics Festival). Rangkaian acara Defest antara lain Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTI), lomba poster, dan seminar. Tahun ini seminar Defest bertemakan “Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat dan Kemandirian Ekonomi Indonesia melalui Optimalisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam: Peran Sumber Daya Energi dan Sumber Daya Kelautan.” Acara yang bertempat di Hotel Grasia Semarang ini dihadiri oleh Rektor Undip, Sudharto P. Hadi sebagai keynote speaker. Ia mengungkapkan bahwa peningkatan optimalisasi sumber daya kelautan merupakan hal yang perlu ditindak lanjuti karena laut Indonesia mempunyai potensi besar dibandingkan dengan laut yang ada di negara lain. Selain itu seminar yang merupakan puncak dari rangkaian Defest 2014 ini juga dihadiri oleh peserta LKTI dan finalis lomba poster.

Berbeda dengan seminar pada umumnya, acara yang dimulai pada pukul 08.00 WIB ini dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama dengan dimoderatori oleh dosen FEB Undip Maruto Umar Basuki, bertemakan kelautan. Pada sesi ini pembahasan mengenai pengoptimalan sumber daya kelautan seperti peningkatan kesejahteraan nelayan. Sesi kedua menjelaskan mengenai pengoptimalan energi gas yang ada di Indonesia, sedangkan sesi ketiga membahas tentang teknologi terbaru untuk menggali potensi-potensi sumber daya kelautan dan gas yang ada di Indonesia.

Parulian Sihotang dari SKK Migas menjelaskan bahwa Indonesia hanya memiliki 1,3 persen gas dunia. Jumlah ini sangat sedikit apabila dibandingkan dengan negara-negara penghasil gas yang lain. Indonesia pada tahun 1980an mengalami oil boom guna meningkatkan APBN dengan mengekspor minyak bumi secara besar-besaran, sehingga energi tak terbarukan ini semakin lama akan habis. Hal yang menarik juga disampaikan oleh Edi Sukur, dari Masyarakat Ilmuan dan Teknolog Indonesia (MITI). Ia menjelaskan bahwa pengembangan industri di Indonesia kurang memperhatikan hasil-hasil penelitian yang telah ada. Hal ini disebabkan bahwa pelaku sektor industri menganggap penggunaan teknologi atas hasil penelitian, high cost.

Anindika sebagai ketua panitia menututkan, acara ini digelar sebagai salah satu wadah untuk merumuskan ide guna menangani permasalahan di bidang sumber daya kelautan maupun energi. Sehingga diharapkan akan tercipta koordinasi antara temuan dari hasil riset yang telah ada dengan implementasi oleh lembaga pelaksananya. (nq)

 

Reporter: Ariska dan Ariski

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *