Diskusi Publik, Beberkan Penyebab Hengkangnya Industri Asing dari Indonesia

FEB Undip (23/3) –  Pada bulan Februari lalu, dua perusahaan otomotif asal Amerika memutuskan mundur dari pasar Indonesia.  Tak pelak, hal ini menyisakan pertanyaan besar termasuk di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) menggelar diskusi publik bertajuk Mengapa Industri Internasional Hengkang dari Indonesia. Acara yang diadakan di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) FEB lantai 2 ini dihadiri oleh beberapa perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa).

Diskusi ini bertujuan untuk mengasah sikap kritis dari mahasiswa serta membahas isu-isu yang masih diragukan oleh kalangan mahasiswa.  Sehingga, diskusi rutin yang diadakan dua bulan sekali ini mampu mengungkap penyebab terhambatnya sektor perekonomian Indonesia. Diskusi ini juga diadakan guna memperoleh pengakuan dari pihak BEM Nasional. Karena, setiap BEM Universitas yang ada di Indonesia wajib mengeluarkan pers rilis mengenai isu-isu yang ada di setiap fakultas.

Dimulai pukul 15.30, diskusi publik ini dibuka dengan sambutan Julius Endryawan selaku ketua panitia. Materi disampaikan oleh Wahyu Widodo selaku dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP). Dalam kesempatan ini, Wahyu menyampaikan mengenai penyebab perusahaan asing seperti Ford dan Chevrolet hengkang dari Indonesia. Untuk menganalisis hal ini, maka  harus dilihat dari berbagai aspek seperti, pemerintahan, daya saing, faktor global, dan business cycle.

Kondisi impor ASEAN saat ini ternyata didominasi oleh Tiongkok, sehingga menyebabkan impor negara ASEAN dari Indonesia menjadi sangat kecil. “Hal ini berarti ada beberapa kemungkinan. Yang pertama Indonesia kalah bersaing di pasar ASEAN, sehingga impor ASEAN menjadi sangat kecil bagi Indonesia. Yang kedua, pasar Indonesia masih tetap pada 3 pasar tradisional yaitu AS, Jepang, Singapura,” ujar wahyu.

Diskusi diwarnai dengan argumen-argumen pro-kontra terkait hengkangnya perusahaan asing dari Indonesia. Wahyu Widodo menambahkan pemacu pertumbuhan ekonomi terbaik adalah dengan investasi. Investasi riil ikut menyerap tenaga kerja, kemudian akan menciptakan multiplier effect (efek pengganda) terhadap perekonomian. Ia menyimpulkan untuk saat ini Indonesia masih tetap butuh investasi asing. Ada pun upaya yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi salah satunya dengan memberdayakan perekonomian lokal melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).  Daya saing produk UMKM dapat ditingkatkan dengan penguasaan teknologi.

Acara diskusi publik kali ini berjalan dengan kondusif dan mendapat antusiasme yang tinggi dari mahasiswa. “Saya senang sekaligus bangga, karena ini baru diskusi publik yang pertama di tahun 2016. Namun, antusias dari pesertanya sendiri sangat banyak. Hal ini terlihat dari banyaknya perwakilan Ormawa yang datang,” tutur mahasiswa jurusan Akuntansi 2013 ini. Julius berharap, diskusi ini bisa rutin diselenggarakan dan menarik lebih banyak peserta serta dapat memberikan dampak yang baik bagi seluruh mahasiswa.

Reporter : Dewi Setyoningrum

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *