Diskusi Terbuka BEM Undip, Kupas Polemik Mega Proyek NYIA

Undip (26/1) – BEM Undip mengadakan acara Diskusi Terbuka perihal pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Diskusi tersebut bertempat di Pelataran Student Center Undip. Acara ini dihadiri beberapa mahasiswa Undip di tengah masa liburannya.

Diskusi ini bertujuan untuk mengupas upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). “Selain untuk mengupas upaya-upaya pemecahan masalah, diharapkan diskusi ini juga dapat menimbulkan pencerdasan kajian yang komprehensif sehingga dapat menganalisis masalah tersebut dalam berbagai sektor,” pungkas Abdurrohman Hizbulloh, Ketua BEM Undip.

Pembangunan NYIA yang dikembangkan oleh PT. Angkasa Pura I ini membutuhkan minimal 737 hektar dan akan diperluas menjadi 2000 hektar untuk realisasi Airport City. Lokasi pembangunannya berada di Desa Glagah, Palihan, Sindutan, Jangkaran, Kebonrejo dan Temon Kulon yang terletak di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, DIY. NYIA bukan sepenuhnya kepentingan umum, justru pembangunan ini telah merampas banyak ruang hidup masyarakat. Semakin sempitnya lahan pertanian karena proses alih fungsi yang masif.

Dalam diskusi tersebut, salah satu peserta yang bernama Fathan mengatakan bahwa dalam administrasi perihal pembangunan tersebut hanya melibatkan 5 desa saja. “Soal administrasi yang dibuat oleh PT. Angkasa Pura I hanya melibatkan 5 desa saja, tetapi pada nyatanya sebanyak 6 desa yang terlibat dalam pembebasan lahan tersebut,” tutur Fathan dalam pendapatnya.

Selain itu, Fathan juga menuturkan bahwa sebagian besar masyarakat yang sudah direlokasi ke tempat yang baru masih merasa kesulitan karena belum memliki pekerjaan yang tetap sehingga mereka banyak yang memiliki utang untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Sebelumnya masyarakat sudah terbiasa dengan bertani sebagai mata pencaharian mereka sehingga mereka dapat memiliki penghasilan dari bertani tersebut, tetapi sekarang di tempat yang baru mereka harus mencari pekerjaan tetap karena sudah tidak ada lahan lagi yang bisa digunakan untuk bertani dan akibatnya mereka belum bisa memiliki penghasilan,” jelas Fathan.

Di akhir diskusi ini, upaya-upaya untuk memecahkan masalah pembangunan NYIA belum menemui titik cerah. Akan tetapi diskusi ini sudah menemukan 3 pokok kajian yang akan dibahas selanjutnya yaitu pertama tentang konflik agraria yang masih berlangsung di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Kedua, perihal administrasi yang masih belum jelas dari pihak PT. Angkasa Pura I. Ketiga, perihal pandangan umum serta pendapat mahasiswa terhadap polemik pembangunan NYIA tersebut.

Untuk selanjutnya pihak BEM Undip akan menyerahkan 3 pokok kajian terkait isu tersebut kepada pihak BEM fakultas masing-masing untuk dikaji lebih lanjut. “Pokok kajian tersebut akan kami kirimkan kepada masing-masing BEM fakultas karena masing-masing fakultas memiliki ilmu-ilmu fokus tersendiri sehingga mereka dapat mengkaji isu tersebut dari sisi ilmu fokus mereka,” ungkap Abdurrohman.

Setelah masing-masing BEM fakultas menghasilkan pandangan dari isu tersebut kemudian hasil itu dikirim ke pihak BEM Undip untuk dibahas selanjutnya pada diskusi berikutnya yang akan diumumkan melalui timeline akun resmi Line BEM Undip untuk waktu dan tempat diskusi selanjutnya. (fn)

Reporter: Jessica Rahma S.A

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *