E-day 2013 : Napak Tilas Pembangunan Kota Semarang

Berlangsungnya E-Day

Semarang, Rabu (05/6) – Ruang Serba Guna PKM lantai 2 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) pada Rabu (05/6) ramai mahasiswa yang berbondong hadiri talkshow Semangat Pembangunan Kota Semarang, Dulu dan Kini. Acara tersebut dimulai pukul 10.00 wib dengan dihadiri pers mahasiswa di lingkungan Undip, alumni Edents, perwakilan organisasi mahasiswa di FEB, serta para mahasiswa. Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa Economic Students (LPM Edents) tersebut dalam rangka launching majalah 18 dan website.

Pada majalah edisi 18, Edents mengangkat tema Napak Tilas Pembangunan Kota Semarang. Para penulisnya pun mencoba mengusik masa lalu Kota Semarang dan mempertanyakan nasibnya di masa depan. Di moderatori oleh Surya Rahardja, talkshow tersebut menghadirkan Dewi Yuliati (dosen Ilmu Sejarah FIB Undip), Muhammad Yogi Fajri (komunitas Lopen Semarang), dan Hayatun Nufus (pemimpin redaksi Edents) sebagai pembicara.
Hayatun Nufus menjelaskan latar belakang penulisan majalah yang mengangkat sejarah Semarang. Ia pun menjelaskan isi pada tiap laporan utama (laput) dalam majalah tersebut. Pada laput pertama yang berjudul “Kenang Masa Lalumu, Tanya Masa Depanmu, Semarang” dijelaskan bahwa dulunya, kota Semarang hanyalah seluas kota lama kini, sekitar 0,3125 km2. Pembangunannya pun sudah dimulai sejak era kolonial Belanda yang hingga saat ini masih menyisakan beberapa kisah menarik, diantaranya adalah revitalisasi pelabuhan laut Tanjung Emas. Sedangkan pada laput dua, “Semarang, antara Tenggelam dan Metropolitan” dijelaskan mengenai kondisi kekinian pembangunan kota Semarang.
Tak jauh berbeda dengan Hayatun, Dewi Yuliati juga menjelaskan sejarah panjang ibu kota Jawa Tengah ini. Mulai dari sistem drainase yang sudah dirancang sedemikian rupa hingga pasar johar sebagai prototipe mall. Begitu pula dengan Yogi Fajri yang menceritakan sejarah beberapa bangunan cagar budaya di kawasan kota lama.
Menurut Dewi juga Yogi, penetapan sebuah kawasan di Semarang terutama infrastrukturnya, belum memuat unsur historis. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Purnomo, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah saat diwawancara Edents, ia mengatakan bahwa dalam menetapkan suatu kawasan, Bappeda mengacu pada 3 hal, yaitu daya dukung, daya tampung, dan historical.

Reporter: Nurul

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *