Ekonomi Islam untuk Ketahanan Pangan Indonesia

Oleh: Galuh dan Akbar

Undip (16/9)  – Dalam rangka launching program studi (prodi) Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip bekerjasama dengan Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) menggelar seminar “Pengukuhan Ketahanan Pangan Indonesia melalui AEC (Al- Quran Economic Community)”. Seminar ini tak hanya dihadiri oleh sivitas akademika Undip saja, tetapi beberapa sivitas akademisi dari perguruan tinggi yang ada di Semarang juga tampak hadir di Gedung Prof Soedarto.

“Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa Ekonomi Islam itu bukan hanya perbankan syariah tetapi tentang suatu konsep yang cukup luas. Jadi konsep terkait dengan pertanian dunia, sektor rill, sektor perdagangan atau sektor produksi,” tutur Darwanto, ketua panitia.

Anis Chariri, Pembantu Dekan I FEB Undip, dalam sambutannya menuturkan, prodi Ekonomi Islam diharapkan mampu menghasilakn lulusan terbaik yang membawa kemaslahatan tidak hanya dalam materi, namun juga non-materi dan dapat membawa dampak positif terhadap ekonomi.

Hadir sebagai pembicara utama, Handewi P. Saliem, Kepala Pusat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian. Ia menuturkan bahwa beberapa  masalah utama sektor pertanian diantaranya keterbatasan lahan,kepemilikan lahan yang sempit,sulitnya akses ke lahan, twerbatasnya jumlah SDM dan juga kualitas SDM yang rendah.

Pada sesi seminar, Aditnyawarman, akademisi FEB Undip bertindak sebagai moderator. Materi seminar disampaikan oleh Muhammad selaku pakar Ekonomi Islam Dewan Paka MES Pusat dan IAEI Pusat, Muhaimin Iqbal selaku Chairman of Gerai Dinar Group,Ismi Kushartono selaku Direktur Eksekutif Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah didampingi oleh Sigit Eko.

Materi pertama disampaikan Muhammad yang berbicara seputar ketahanan pangan dalam perspektif Islam,eksistansi pertanian dalam ketahan pangan serta pengelolaan stok cadangan pangan.

Muhaimin Iqbal sebagi pembicara kedua memaparkan salah satu karyanya yang berjudul Kebun Al-Quran. Sedangkan pembicara ketiga dan keempat yang merupakan perwakilan dari Gerakan Rakyat Ekonomi Syariah (GRES) menceritakan kontribusi GRES dalam mewujudkan ketahanan pangan dan budaya memenuhi ketersediaan dan diversifikasi pangan, serat, nutrisi dan penghasilan.

Umar Syafqi, salah seorang peserta yang hadir dalam seminar mengungkapkan, “Seminarnya membuka pemikiran mahasiswa, apa itu sebenrnya Ekonomi Islam dan bagaimana menghadapi sistem ekonomi yang ada saat ini yang ada di Indonesia dan MEA serta bagaimana kita menghadapi MEA dari sudut pandang Islam,” ungkapnya. (nq)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *