Emansipasi di Dunia Modern, Sudah Tepatkah?

     Istilah emansipasi tentu sudah tak asing di telinga kita. Emansipasi telah digaungkan oleh RA Kartini sebagai pelopor dari gerakan emansipasi wanita yang dengan gigih membela dan memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Mengingat pada masa itu kebebasan kaum wanita sangat dibatasi dengan kentalnya budaya patriarki yang mendarah daging di masyarakat. Kaum wanita tidak memiliki kebebasan seperti halnya yang dimiliki kaum pria, baik itu kebebasan mengenyam pendidikan, kebebasan bekerja bahkan lebih parahnya lagi, kebebasan mengeluarkan pendapat. Wanita dianggap tidak perlu mengenyam pendidikan karena nantinya hanya akan mengurus urusan rumah tangga. Hal inilah yang membuat Kartini tidak bisa tinggal diam dan tergerak hatinya untuk memperjuangkan hak-hak kaum wanita, terutama dalam hal pendidikan. Ia memulai perjuangannya dengan mendirikan sekolah untuk anak-anak gadis yang tinggal di sekitar kota kelahirannya, Jepara. Wanita yang nantinya akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, tentunya harus memiliki bekal pendidikan yang cukup agar dapat mendidik anaknya menjadi generasi yang gemilang di masa depan.

     Lalu, bagaimana dengan perjuangan emansipasi di dunia modern seperti sekarang ini? Apakah sudah tepat? Ternyata istilah ini sudah sangat melenceng dan disalahartikan. Tentu kita sudah sering mendengar paham feminisme yang dihembuskan oleh kaum barat. Feminisme memang mengaku memperjuangkan hak-hak wanita, tapi akhirnya justru malah menjauhkan wanita dari kodratnya. Tidak dapat dipungkiri wanita itu kodratnya memang diciptakan berbeda dari kaum pria. Ada hal-hal tertentu yang memang menjadi tanggung jawab pria, dan tentunya wanita tidak mampu melaksanakannya. Seperti contoh dalam kehidupan berumah tangga, pria berkewajiban untuk menafkahi keluarganya dan wanita berkewajiban untuk berbakti kepada suami dan mengurus anak-anaknya. Pria dan wanita jelas memiliki peran masing-masing, karena memang sudah seperti itulah mereka diciptakan. Emansipasi bukanlah menuntut wanita untuk disamakan derajatnya dengan kaum pria. Akan tetapi emansipasi adalah memperjuangkan hak-hak yang seharusnya wanita dapatkan, tanpa sekalipun meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Emansipasi yang diperjuangkan oleh Kartini tidak pernah mendorong kebebasan kaum wanita dengan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang wanita. Wanita yang memiliki pendidikan tinggi, karir yang bagus, jabatan yang lebih tinggi dari kaum pria bukanlah suatu kesalahan. Tetapi tentunya mereka harus tetap menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai sebuah kodrat yang memang sudah melekat pada dirinya.

     Kehidupan wanita di masa kini sudah sangat lebih baik jika dibandingkan dengan masa lampau, di mana wanita dibelenggu kebebasannya. Wanita kini memiliki kesempatan yang sama seperti pria, baik dalam hal pendidikan, jabatan, prestasi dan lain sebagainya. Tak jarang pula beberapa kali kaum wanita mengharumkan nama bangsa di kancah dunia melalui prestasinya di bidang pendidikan maupun non pendidikan, misalnya olahraga. Bahkan, beberapa negara di dunia pemimpinnya adalah seorang wanita, sebut saja Malawi dengan presiden wanitanya yaitu Joyce Banda. Joyce dikenal giat menyuarakan hak-hak perempuan dan menjadi presiden wanita pertama di negara tersebut. Hal ini kian membuktikan bahwa perjuangan Kartini di masa lampau mempunyai pengaruh yang begitu besar bagi kehidupan wanita di masa kini. Tidak ada lagi diskriminasi antara kaum wanita dan pria, semuanya memiliki kesempatan yang sama.

     Hari ini tepat pada tanggal 21 April, bangsa Indonesia khususnya kaum wanita memperingati hari lahir RA Kartini sebagai hari emansipasi wanita. Berkat jasa-jasa dan perjuangan beliau kini kaum wanita dapat memperoleh hak-hak dan kebebasan yang tak pernah ia dapatkan di masa lampau. Sebagi pengingat, momentum ini harus kita maknai sebagai arti emansipasi wanita yang sesungguhnya, yaitu emansipasi dengan tetap menjalankan kodratnya sebagai wanita. Emansipasi di dunia modern seperti sekarang ini sejatinya merupakan tantangan tersendiri bagi kaum wanita, di mana ia harus pandai mengambil peran tanpa sekalipun melupakan kodratnya. Wanita dituntut untuk selalu berpikir kritis dan aktif dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin maju.

Berjuanglah, Kartini masa kini!

yulina

Yulina Masyrifatun Nisa

Mahasiswa Akuntansi, Universitas Diponegoro 2014

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *