Etika dan Netizen dalam Etalase Media Sosial, Tidak Lagi Terjebak Berita Hoax

Undip (27/5) – LPM Opini FISIP Undip menggelar seminar nasional dan talkshow dengan tema Etika dan Netizen dalam Etalase Media Sosial. Acara yang bertempat di Auditorium Fisip ini menghadirkan M. Rofiuddin, mantan ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, Wisnu Prasetya Utomo (Peneliti Media Remotivi) dan Admin PoliticalJokes sebagai pembicara. Acara ini bertujuan untuk memahami bagaimana beretika yang baik dalam menggunakan media sosial.

Sunarto, Dekan FISIP Undip, turut hadir pada acara tersebut. Dalam sambutannya ia meminta agar mahasiswa menggunakan media sosial dengan baik. “Tujuan yang baik, tapi diekspresikan dengan cara yang tidak baik, maka Anda harus siap-siap,” ungkapnya. Selanjutnya acara diambil alih oleh Lintang Ratri selaku moderator.

M. Rofiuddin, saat ini menjabat sebagai KPID Jateng, hadir sebagai pembicara pertama. Ia menyampaikan bahwa pada era sekarang, ide dan penyebaran informasi tidak bisa dibatasi. “Era kita bukan lagi banjir informasi, tapi tsunami informasi,” ujarnya. Oleh karena itu penggunaan media sosial menjadi alat kritik. Bukan hanya menceritakan diri sendiri, tapi juga menceritakan lingkungan sekitar.

Rofi juga menyampaikan tentang hukum wartawan dalam penggunaan sumber berita dari media soial. Ia mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada kode etik yang mengaturnya. Ada beberapa wartawan yang menganggapnya boleh, namun ada juga yang melarangnya. Ia berpendapat bahwa hal itu boleh dilakukan dengan memenuhi dua syarat. Pertama, media sosial tersebut adalah asli milik orang yang bersangkutan. Kedua, harus meminta izin terlebih dahulu pada pihak yang bersangkutan.

Wisnu selaku pembicara kedua menyampaikan materi problematika etika di media sosial Indonesia. Ia menyampaikan bahwa tahun 2015, pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 88 juta. Dalam angka tersebut, pengguna internet paling banyak adalah orang dalam rentang usia 18-25 tahun (generasi milenial). Problematika etika di media sosial diantaranya adalah hoax, polarisasi, efek plasembo, dan deligitimasi media arus utama.

Dalam penuturannya ia menyampaikan bahwa group keluarga (seperti WA) merupakan jejaring sosial yang nantinya akan membentuk hoax culture. Hal ini karena kebanyakan dari kita tidak bisa membatah berita yang disebar melalui group tersebut. Mengapa? Karena anggota di dalamnya adalah keluarga sendiri. Sedangkan adanya perbedaan prinsip dan pandangan dapat membuat sesorang tidak mau menerimanya sehingga menimbulkan polarisasi. Pada akhirnya memicu timbulnya left group.

Wisnu juga mengatakan bahwa regulasi dalam literasi interaksi antarpersonal tidak diperlukan. Hal ini karena regulasi tersebut nantinya akan membatasi kita dalam berekspresi. Menurutnya UU ITE saja sudah cukup sebagai regulasi. Jika terlalu banyak regulasi, akan menimbulkan budaya ketakutan. Sehingga masyrakat terjebak dalam rezim otoriter.

Pembicara terakhir adalah dua Admin PoliticalJokes bertujuan untuk memberikan edukasi politik kepada anak muda yang dikemas secara kekinian. Mereka berharap bahwa isu-isu politik dapat menjadi bahan diskusi di keseharian anak muda. Jadi tidak hanya sekedar jokes yang bisa membuat orang lain tertawa, tapi ada esensi dibalik setiap postingan PoliticalJokes.

Tio selaku ketua panitia mengaku bahwa jumlah perserta yang hadir dalam acara ini telah melebihi ekspetasi awalnya. Ia berharap agar masyarakat tidak lagi mudah terjebak dengan berita hoax.

 

Reporter : Ayu Wulan

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *