Filantropi Investment, Strategi Pengelolaan Wakaf Produktif Guna Mewujudkan Sarana Layanan Kesehatan di Kabupaten Grobogan

”Tanah wakaf yang ada saat ini belum semuanya di kelola untuk dijadikan wakaf produktif terutama sarana layanan kesehatan. Hal ini dikarenakan sosialisasi yang dilakukan pemerintah belum sepenuhnya mencakup lapisan masyarakat,” jelas Hadi Purnomo, Kementrian Agama Kabupaten Grobogan

Kabupaten Grobogan memiliki potensi tanah wakaf mencapai 18.185 ha. Berbagai potensi tanah wakaf tersebut dapat digunakan untuk pembangunan mushola, masjid, sekolah/pesantren, makam, dan sosial lainnya. Adapun demikian belum ada pemanfaatan tanah wakaf guna keperluan sarana kesehatan masyarakat. Sementara tingkat derajat kesehatan Kabupaten Grobogan masih berada dibawah target yang ditetapkan provinsi Jawa Tengah.

Hal ini dapat diukur dari indikator derajat kesehatan masyarakat yang mencapai angka AKB (Angka Kematian Bayi) sebesar 17,22, AKI (Angka Kematian Ibu) 17,22, AKABA (Angka Kematian Balita) 20,03. Angka tersebut masih di bawah target yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yaitu AKB sebesar 9,1/1.000 KH, AKI 60/100.000 KH, dan AKABA sebesar 12,01/1.000 KH.

Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan (2016) menyebutkan terdapat tiga puluh puskesmas yang tersebar pada sembilan belas kecamatan di Kabupaten Grobogan terdiri dari dua belas puskesmas rawat inap dan tujuh belas puskesmas non rawat inap. Menurut UNDP (United Nations Development Programme) terhitung pada 2016 rasio ideal daya tampung rumah sakit adalah 1.000 penduduk : 1 tempat tidur. Tahun 2015 rasio jumlah penduduk dengan jumlah sarana kesehatan/tempat tidur yang telah disediakan di Kabupaten Grobogan sebesar 1:1425 hal tersebut belum mencapai target rasio ideal yang ditetapkan UNDP.

”Tanah wakaf yang ada saat ini belum semuanya di kelola untuk dijadikan wakaf produktif terutama sarana layanan kesehatan. Hal ini dikarenakan sosialisasi yang dilakukan pemerintah belum sepenuhnya mencakup lapisan masyarakat,” jelas Hadi perwakilan dari Kementrian Agama Kabupaten Grobogan. Selain karena minimnya sosialisasi dari pemerintah, pandangan yang masih tradisional dari para wakif dan calon wakif bahwa peruntukan tanah wakaf hanya untuk sarana ibadah, pendidikan dan makam, maka dari itu jika tanah wakaf untuk sarana layanan kesehatan masih dianggap belum populer dikalangan masyarakat.

Melihat celah tersebut terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mendongkrak potensi wakaf produktif guna mewujudkan sarana layanan kesehatan. Beberapa strategi seperti peran pemerintah dalam bentuk sosialisasi dan pengawasan. Sosialisasi dapat dilakukan melalui mulut ke mulut sehingga dapat tersalurkan keseluruh masyarakat dengan dana yang tidak memberatkan. Kemudian peningkatan pemahaman masyarakat mengenai wakaf produktif sehingga sosialisasi yang telah disampaikan dapat dilaksanakan.

Pengirim Siti Masruroh, Meys Sandro Delfiero, Rica Dwi Cahyanti tim dari PKM Penelitian Sosial Humaniora Universitas Diponegoro.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *