Gugatan terhadap PD III Berakibat Mundurnya Rapat Terbuka

FEB Undip (14/12) – Rapat terbuka penetapan ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) terpilih yang seharusnya diadakan pada hari Kamis (11/12) terpaksa diundur. Hal tersebut terkait adanya gugatan dari pihak calon ketua dan wakil ketua BEM nomor urut tiga yang masuk ke Badan Sengketa pada hari Rabu (10/12). Gugatan dilayangkan kepada Edy Yusuf selaku Pembantu Dekan III FEB Undip.

Hingga saat ini, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai kepastian kapan rapat terbuka penetapan ketua dan wakil ketua BEM akan dilaksanakan. Namun demikian, berdasarkan TAP SEMA, penetapan calon ketua dan wakil ketua BEM dilaksanakan selambat-lambatnya empat belas hari terhitung dari hari penghitungan suara.

Menurut Pepin Nur Dhiansyah selaku ketua Senat Mahasiswa periode 2014, pasangan Dita Monica-Fahreza mengajukan tiga gugatan. Pertama, intervensi pihak dekanat terhadap pelaksanaan Pemiltas. Dekanat dianggap terlalu banyak mencampuri proses demokrasi mahasiswa, terutama pada proses perhitungan suara yang ditunda hingga hari selanjutnya (5/12) akibat permintaan pihak dekanat. Kedua, gugatan mengenai enam surat suara yang hilang. Ketiga, intimidasi terhadap intervensi dekanat. Penggugat menyatakan dalam surat gugatannya bahwa intimidasi yang dilakukan Edy Yusuf berupa perkataan “Oke mas kalau kamu tidak mau perhitungan di hari selanjutnya, oke mending panitia pemiltas sekaligus pemiltas dibubarkan saja, tidak usah ada pemiltas.“

Terkait gugatan, pasangan Noval-Ibna tidak melayangkan gugatan yang berarti mengenai hasil perolehan suara yang telah di tentukan. “Terkait gugatan, mungkin kami tidak menggugat apa-apa. Karena dari perolehan suara jauh tertinggal,” jelas Noval. Lain halnya dengan Dita Monica Sekarini, calon ketua BEM nomor urut tiga,  menyatakan rasa kekecewaannya terhadap pihak PD III. Monic menyatakan PD III terlalu ikut campur sehingga banyak yang menyeleweng dari TAP yang telah dibuat.

Edy Yusuf selaku pihak tergugat menyatakan bahwa ia memang mengintervensi perhitungan suara yang dilakukan keesokan harinya. Hal ini disebabkan oleh beberapa pertimbangan seperti efektivitas waktu serta menjaga keamanan dan ketertiban. “Saya memang mengintervensi kotak suara terkait pembukaannya dilakukan pada keesokan harinya untuk penjagaan saja andaikan kotak suara tersebut dibuka dan dihitung pada hari pemungutan suara pasti akan memakan waktu hingga subuh. Saya intervensi bukan bermaksud jelak, saya mencoba untuk lebih aman dan lebih tertib kalau buka besok paginya,” ungkap Edy.

Mengenai surat suara yang hilang, Edy menyatakan bahwa surat suara tersebut bukan termasuk sengketa karena jumlah yang hilang kurang dari margin error yang telah ditetapkan sebesar 5% dari total surat suara tersedia di TPS. “Kalau MK mengatakan selisih suara pemenang dengan calon lain selisihnya kurang dari 4%, maka kemungkinan pemenang bisa berubah. Namun kalau lebih dari 4 % apalagi kalau ini selisih hampir 80% (400-700) mustahil jika sengketa mengalahkan pemenang. Dan kalaupun yang 6 suara diserahkan kepada yang lain tapi tetap saja total itu tidak bisa menggoyahkan selisih suara yang terlalu besar,” tambahnya. (gt)

Reporter : Nur, Novi, Henty, Dian, Petra, dan Eka

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *