IESP Undip Raih Juara (Lagi) di Ajang Kepenulisan Essai

“Gagal itu hal yang biasa,yang terpenting itu bukan sebuah kegagalan melainkan sebuah proses mencari jati diri dan menemukan tujuan hidup kita,” ungkap Muslimah Mahmudah – Mahasiswi IESP UNDIP.

FEB Undip  – Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Undip kembali menorehkan prestasinya di dunia tulis-menulis. Kali ini, kabar gembira datang dari Muslimah Mahmudah, mahasiswi IESP angkatan 2013. Muslimah meraih juara  dua dalam ajang Environmental Geography Student Association (EGSA) Fair 2014 di Universitas Gadjahmada (UGM), Yogyakarta.

EGSA FAIR yang merupakan upaya kontributif dari para mahasiswa Jurusan Geografi Lingkungan ini mengangkat tema “Bonus Demografi : Jendela Kesempatan, Peluang, dan Tantangan dalam Managemen Sumber Daya Nusantara”. Acara tersebut terdiri dari Kompetisi Gagasan untuk Bangsa, Expo : Ragam Indonesia, Seminar Nasional, dan Diskusi Tokoh. Kompetisi Gagasan untuk Bangsa dilaksanakan melalui empat tahap yaitu pengumpulan naskah (11/11), pengumuman lima belas besar dari lima puluh empat peserta (28/11), presentasi gagasan yang diselenggarakan di Gedung FISIP UGM (5/12), serta pengumuman tiga besar (6/12).

Muslimah memilih tema “Langkah Konkrit Indonesia dalam Mempersiapkan Bonus Demografi” dari beberapa tema yang telah ditentukan Panitia. Menurutnya, tema tersebut sederhana dan mudah diterapkan di Indonesia. Ia juga mengaku membuat dua essai dengan judul yang berlainan pada kompetisi tersebut, yaitu “Merdeka Karena Utang Pra Memasuki Population (B)onus” dan  “Bonus Demografi, Arah Kehancuran atau Pembangunan?”. Hal ini dikarenakan apabila essainya tidak lolos, maka ia masih memiliki cadangan yang lainnya. Namun, essai pertamalah yang membawanya lolos menjadi 15 besar.

Essai berjudul “Merdeka Karena Utang Pra Memasuki Population (B)onus” membahas mengenai utang yang merupakan salah satu instrumen keuangan paling dominan guna membiayai aktivitas bisnis sebagai solusi untuk mengatasi defisit APBN. Defisit APBN disebabkan oleh penerimaan pemerintah yang terbatas sedangkan pengeluarannya telah melebihi batas wajarnya. Muslimah mengungkapkan bahwa utang merupakan solusi yang tepat bagi Pemerintah karena dapat menutup defisit dengan mudah.

Menulis essai yang tidak mudah merupakan kendala yang dihadapi Muslimah dalam mengikuti kompetisi ini. Muslimah mengaku, ini merupakan pertama kalinya ia mengikuti lomba essai, sehingga harus mencari referensi dari banyak sumber dan meminta info kepada senior. Ia juga berharap agar ke depannya semakin banyak mahasiswa yang memberanikan diri untuk mengikuti sebuah kompetisi. ”Gagal itu hal yang biasa, yang terpenting itu bukan sebuah kegagalan melainkan sebuah proses mencari jati diri dan menemukan tujuan hidup kita,” ungkap Imah. (gt)

Reporter : Dewi

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *