Imology, Ketika Ekonomi Dipadukan dengan Teknologi

xtian

Semarang (5/11) – Teknologi merupakan salah satu faktor yang membedakan negara maju dengan negara sedang berkembang. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih tergolong rendah dalam hal penguasaan teknologi. Oleh karena itu,Lembaga Pers Mahasiswa (LPM Edents) sebagai barometer dinamika intelektual mahasiswa mengadakan bedah majalah dan talkshow bertajuk Imology (Implementation for Economy by Technology).

Bertempat di Gedung Gradhika Bhakti Praja Kompleks Gubernuran Jawa Tengah, acara ini dibuka pukul 09.15 oleh sambutan Fajar Shidiq Fansur selaku ketua acara Imology. Turut mengundang Suharnomo selaku Dekan FEB Undip serta Sinoeng N. Rachmadi selaku Kepala Biro Humas Provinsi Jawa Tengah yang juga meresmikan acara Imology.

Selain talkshow, Imology juga diisi dengan sesi bedah majalah LPM Edents edisi 25 yang mengangkat tema ‘Ekonomi Berbasis Teknologi’. Bedah majalah ini dipimpin oleh Nur Wahidin selaku Pemimpin Redaksi LPM Edents yang mengupas secara singkat isi dari majalah tersebut.

Memasuki acara berikutnya yakni talkshow yang dibagi menjadi dua sesi. Dipandu oleh Maruto Umar Basuki selaku moderator, sesi pertama disampaikan oleh Andi Reina Sari selaku Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah dan Roberto Akyuwen selaku Analisis Eksekutif Senior Bidang Pengembangan LKM Otoritas Jasa Keuangan. Reina menyampaikan tentang Sistem Informasi Harga dan Komoditi (SiHaTi) yang merupakan ‘kamera pengawas’ perekonomian Jawa Tengah. Melalui inovasi tersebut, kini pemantauan pergerakan harga dan produksi komoditas bisa dinikmati melalui mobile phone berbasis android. Di sisi lain,¬†Roberto selaku perwakilan dari OJK menjelaskan tentang perkembangan finacial Technology (Fintech).

Dilanjutkan dengan sesi kedua oleh Cristian Sugiono yang merupakan aktor sekaligus seorang technopreneur. Kehadiran aktor kelahiran Jakarta, 25 Februari 1981 ini sempat membuat suasana Gradhika Bhakti Praja yang diisi mayoritas kaum hawa bergemuruh.

Pria ketturunan Jawa-Jerman ini sempat menjadi buruh cuci ketika kuliah di Jerman. Cristian mengatakan salah satu kunci sukses menjadi seorang wirausaha adalah keluar dari zona nyaman. “Saya bisa saja terus-terusan menjadi tukang cuci piring. Akan tetapi itukah yang saya mau? Tidak,” ujar pria yang disapa Tian ini. Setelah berbagi pengalamannya menjadi seorang wirausaha, talkhsow dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bagi tiga orang peserta. Talkhsow Imology ditutup pukul 13.15 dengan penyerahan kenang-kenangan kepada moderator dan pembicara.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *