Indonesia dan Budaya Merokok

Oleh : Ayu Wulandari*

Konsumsi masyarakat Indonesia atas rokok sangat tinggi. Dilansir dari Tempo.co jumlah perokok Indonesia mencapai lebih dari sepertiga penduduk Indonesia itu sendiri. Jumlah tersebut sukses membawa Indonesia menjadi urutan pertama dunia sebagai negara dengan jumlah perokok paling tinggi. Indonesia mampu melampaui Rusia, China, Philipina, dan Vietnam dalam hal merokok.

Memprihatinkan. Mungkin kata itu tak cukup untuk menggambarkan keadaan Indonesia saat ini. semua kalangan telah terpikat rokok. Mulai dari orang berdasi sampai orang tanpa alas kaki, mereka sudah mengkonsumsi rokok. Dilansir dari tribunnews.com, menurut Survey Lentera pada tahun 2015, 45% remaja Indonesia (usia 13-19 tahun) sudah mulai merokok.

Apa salah remaja jika mereka sudah mengenal rokok? Tidak. Mereka tidak akan mengenal rokok jika tidak diberi contoh. Sejak kecil mereka telah dikenalkan pada rokok melalui keluarga, kerabat, dan tetangga. Mereka juga dikenalkan pada rokok saat duduk di bangku sekolah dan di lingkungan masyarakat. Sangat disayangkan, tak ada yang peduli dengan masa depan generasi kita. Dengan mudahnya anak-anak Indonesia mengenal rokok. Tak dipungkiri, perusahaan rokok menyumbang pajak yang sangat besar untuk negara. Namun, untuk memperoleh dana yang besar tersebut apa harus mengorbankan generasi muda? Apa generasi muda hanya dihargai sebegitu murahnya?

Mari menilik kembali satu fungsi pajak sebagai redistribusi pendapatan. Jika jumlah pajak yang disumbangkan perusahaan rokok sebegitu besarnya, sampai harus rela mengorbankan generasi muda, maka pendapatan masyarakat harusnya juga meningkat. Namun apa pendapatan rakyat Indonesia sudah tinggi? Faktanya, banyak rakyat kita yang hanya mengandalkan belas kasih orang lain.

Lalu apa gunanya negara memiliki banyak uang? Masyarakat kita tetap miskin, kesejahteraan tak kunjung meningkat, anak putus sekolah tetap tinggi, maling dan kriminalitas masih banyak, gelandangan dan pengamen masih bertebaran, listrik belum merata, dan rakyat perbatasan masih dipenuhi keterbatasan.

Parahnya, rokok telah melekat di masyarakat Indonesia layaknya sebuah budaya. Rokok menjadi media untuk pergaulan. Melalui rokok itulah tiap orang bisa memulai pergaulan. Seringkali orang merasa malu jika tidak merokok. Dianggap “lemah” dan “bukan laki”, kurang lebih seperti itu. Padahal yang merokok bukan hanya lelaki saja. Banyak juga perempuan yang merokok, walau jumlahnya tak sebanyak kaum adam.

Dilain pihak, perusahaan rokok memang menyumbang beasiswa. Namun beasiswa tersebut tak mampu menutup dampak negatif rokok. Rokok tidak hanya berpengaruh pada perokok aktif saja, perokok pasif pun memiliki risiko yang sama besarnya. Rokok tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga pada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Sadar atau tidak, rokok lah yang menyebabkan kesejahteraan masyarakat tak kunjung meningkat.

Terlepas dari beasiswa yang dipersembahkan oleh perusahaan rokok dan pendapatan pajak yang tinggi, rokok tetaplah rokok. Ada banyak kandungan yang tak baik untuk tubuh manusia di dalam rokok. Jika otak kita tak sampai untuk menyadari buruknya dampak rokok, cukup percaya saja bahwa rokok itu tidak baik untuk kesehatan, ekonomi dan kesejahteraan. Rokok tak hanya merusak diri sendiri, tapi juga orang-orang sekitar.

Sudah banyak langkah yang diambil pemerintah dan lembaga swadaya untuk menekan jumlah perokok yang terus naik. Iklan layanan masyarakat sudah bertebaran dimana-mana. Sosialisasi antirokok sudah sering dilakukan. Pembuatan slogan dan poster antirokok sudah banyak. Pembuatan kawasan bebas rokok juga sudah banyak. Penayangan iklan rokok hanya diperbolehkan saat malam. Peringatan bahaya merokok disertai gambar paru-paru rusak dalam bungkus rokok juga sudah dilakukan. Namun hal itu tak dapat menekan jumlah perokok Indonesia. Bahkan setiap tahunnya jumlah itu terus naik.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan cukai melalui Peraturan Menteri Keuangan No.147/PMK.010/2016 tentang tarif cukai hasil tembakau. Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2017. Menurut peraturan ini, harga eceran rokok tidak boleh lebih rendah dari Batasan Harga Jual Eceran (HJE). Tarif cukai yang ditetapkan juga tak boleh lebih rendah dari tarif yang berlaku. Selain itu, pabrik juga diberi batasan dalam memproduksi jumlah rokok.

Melalui peraturan ini pemerintah berharap dapat mengurangi angka perokok di Indonesia. Pemerintah menyadari bahwa rokok sangat merugikan kesehatan masyarakat, sehingga harus dibatasi. Hal ini nantinya juga akan berpengaruh pada dana yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Penyakit tidak menular akibat rokok seperti kanker, jantung, ginjal, dan stroke telah menyedot dana BPJS paling besar.

Memang tidak akan mudah menurunkan jumlah perokok di Indonesia. usaha untuk menurunkannya pun tak dapat dilakukan hanya dari pihak pemerintah dan lembaga swadaya. Pengusaha dan masyarakat juga harus turut serta di dalamnya. Bahkan bukan hanya masyarakat Indonesia saja yang harus berpartisipasi, tapi juga masyarakat dunia.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan tanggal 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia sejak tahun 1989. Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) ini bertujuan untuk mendorong kesadaran masyarakat di seluruh dunia untuk mengurangi atau menghentikan konsumsi tembakau dalam bentuk apapun. Selain itu, HTTS juga bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat global untuk menyebarkan pesan tentang efek berbahaya penggunaan tembakau dan dampaknya terhadap orang lain.

Sudah bayak langkah yang dilakukan berbagai pihak untuk mengurangi aktivitas merokok. Sudah banyak pula dipaparkan dampak buruk rokok dalam berbagai kesempatan. Tapi mengapa kita tetap mengonsumsi rokok? Kita memang tak bisa menghilangkan rokok begitu saja, tapi kita bisa menguranginya. Dimulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat mari kita berpartisipasi dalam gerakan antirokok. Bukan untuk kita sendiri, tapi juga untuk orang-orang disekitar kita, orang tua, dan kelak untuk anak cucu kita.

*penulis merupakan mahasiswa Fakultas Eknomika dan Bisnis Undip

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *