Isu Kenaikan UKT dan SPI Dinilai Beratkan Maba 2016

1459591658935[1]

Undip (1/4) – Kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi isu yang hangat diperbicangkan oleh mahasiswa Undip akhir-akhir ini. Menanggapi hal ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (BEM Undip), Senat Mahasiswa Undip, Majelis Wali Amanat (MWA), serta perwakilan mahasiswa dari sebelas fakultas di Undip berkumpul di Student Center guna membahas rencana pihak rektorat untuk menaikkan UKT bagi mahasiswa baru 2016. Diskusi ini juga membahas pembebanan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) kepada mahasiswa baru yang diterima melalui jalur ujian mandiri (UM).

Rencana kenaikan UKT ini tidak lain akibat dari ditetapkannya Undip sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). Namun, pemasukan Undip sebagai PTNBH hanya memenuhi 10 persen dari target. Selain itu, kurangnya dana bantuan yang didapatkan oleh Undip untuk menuju world class university juga merupakan salah satu faktor pendorong kenaikan ini.

Pengambilan kebijakan dari pihak rektorat tersebut sebenarnya tidak menyalahi aturan. Sesuai yang tertera dalam pasal 9 Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) No. 22 tahun 2015 bahwa SPI dapat ditarik dari mahasiswa, dengan jumlah maksimal sebanyak 20 persen dari mahasiswa yang diterima. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan persentase mahasiswa baru Undip yang diterima melalui jalur ujian mandiri 2016, yakni sebesar 30 persen.

Pencopotan spanduk menolak kenaikan UKT dan pemungutan SPI oleh oknum pun turut menjadi topik yang hangat dalam diskusi ini. Beberapa mahasiswa ikut angkat bicara menanggapi masalah kenaikan UKT tersebut. Salah satunya adalah Zaki, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK). Zaki mengatakan bahwa FK sepakat menolak kenaikan UKT karena tidak adanya transparansi yang logis dari pihak rektorat. Selain itu, rencana penambahan SPI hingga Rp 250 juta bagi mahasiswa FK yang diterima melalui jalur UM 2016 dinilai sangat membebankan.

Muhammad Austin yang merupakan ketua BEM Fakultas Teknik (FT)  juga menambahkan bahwa kenaikan UKT dan penambahan SPI tidak diimbangi dengan pembangunan infrastuktur yang memadai. Ia memberi contoh seperti gedung D-III FT yang memerlukan peremajaan gedung. Austin juga mengajak seluruh mahasiswa undip menyatukan satu suara untuk menolak kenaikan UKT dan SPI.

Diskusi ini rencananya akan berlanjut dengan aksi turun ke jalan menolak kenaikan UKT-SPI dengan melibatkan seluruh elemen mahasiswa. Rencananya aksi akan dilakukan saat Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung. “Harapannya nanti saat aksi berlangsung lebih banyak mahasiswa yang berkontribusi untuk ikut aksi,” ungkap Fatih Misbahuddin Islam selaku penanggung jawab satuan tugas (satgas) kenaikan UKT-SPI.(nw)

Reporter : Herdini N. Islamiati

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *