Kesma Sharing Centre : Wadah Aspirasi dan Solusi Mahasiswa IESP

117286

FEB Undip (18/5) – Bertempat di Gedung PKM lantai 2, Himpunan Mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (HMD IESP) gelar  Kesma Sharing Centre. Acara ini merupakan salah satu tindak lanjut dari aspirasi mahasiswa yang disampaikan melalui kotak aspirasi yang telah disediakan HMD IESP beberapa waktu lalu.

Acara dimulai pukul 13.30 WIB dengan sambutan oleh Naufal Qinthara selaku ketua panitia. Naufal menyampaikan tujuan utama diadakannya acara ini adalah untuk mewadahi keluhan dan aspirasi mahasiswa FEB, terkhusus Departemen IESP, supaya dapat tersalurkan dan juga segera teratasi. Kesma Sharing Centre dikemas dalam diskusi formal namun santai sehingga para mahasiswa bisa lebih nyaman untuk sharing kepada pihak akademisi FEB Undip.

Wahyu Meiranto, Wakil Dekan II Bidang Sumber Daya FEB Undip, hadir sebagai pembicara pertama. Wahyu lebih memaparkan perihal penggunaan sarana dan prasarana yang terdapat di FEB Undip. “Keluhan terbanyak dari mahasiswa perihal fasilitas antara lain kamar mandi yang kurang bersih, LCD kelas yang sudah rusak, AC yang mati, wifi, dan lain-lain. Terlepas dari banyaknya keluhan tersebut, dari pihak fakultas sendiri sudah mengupayakan semaksimal mungkin untuk membenahi fasilitas-fasilitas tersebut,” jelas Wahyu.

Wahyu juga menjelaskan bahwa pihak fakultas telah banyak bekerjasama dengan pihak ketiga guna meningkatkan kualitas sarana dan prasarana penunjang mahasiswa di lingkungan kampus. Salah satu kerjasama terbaru adalah dengan pihak BTN berupa pengadaan BTN Zone dan lift. “Pada tahun 2016, BTN menganggarkan pembangunan lift di Laboratorium. Namun, karena ada kendala teknis membuat rencana tersebut tertunda hingga saat ini. Tapi InsyaAllah tahun ini clear,” terang Wahyu.

Berikutnya adalah pembahasan masalah akademik yang disampaikan oleh Akhmad Syakir Kurnia selaku Kepala Departemen IESP FEB Undip. Banyak mahasiswa yang mengeluhkan kurangnya sumber daya dosen di Departemen IESP, dosen jarang atau telat masuk, hingga metode pembelajaran yang dianggap monoton oleh sebagian besar mahasiswa. Syakir menjawabnya dengan penjelasan bahwa persoalan utama dalam proses pembelajaran kuliah bukan tentang jumlah sumber daya dosen yang kurang, tetapi tentang efektifitas.

“Efektifitas dan optimalisasi dari dosen ini untuk melakukan apa yang menjadi tugasnya kepada mahasiswa. Sebenarnya yang dibutuhkan bukan dari sisi jumlahnya, jumlahnya cukup kok,” kata Syakir.

Menanggapi tentang banyaknya dosen yang jarang masuk, Syakir mengungkapkan bahwa di Departemen IESP masih banyak dosen yang melaksanakan tugas belajar di luar negeri. “Selain tugas mengajar, ada juga dosen yang mendapatkan tugas khusus dari presiden, contohnya Pak Wahyu Widodo yang diminta untuk menjadi staff kepresidenan,” jelas Syakir.

“Saya memberikan solusi untuk mengajak kalian semua, bagaimana kita memperbaiki dalam keterbatasan kelembagaan yang ada saat ini. Kelembagaan tidak hanya dimaknai secara sempit sebatas organisasi saja. Tetapi aturan, penegakannya, norma-norma, hubungan antar elemen yang saling terkait,” tambah Syakir.

Harapan disampaikan oleh Johan Beni Maharda selaku moderator dalam forum diskusi tersebut. “Semoga program-program dekanat dapat terealisasi dan bisa membuat kenyamanan dan kekondusifan antar bidang di Departemen IESP,” ungkapnya sekaligus menutup forum diskusi sore itu.

 

Reporter : Wakhidatun, Julian

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *