Komitmen Bangsa terhadap Dasar Negara Pancasila

Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar Negara Republik Indonesia merupakan warisan bangsa dari para pendahulu yang wajib dijaga dan diterapkan pada kehidupan bangsa saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Pancasila dirumuskan para pendiri bangsa adalah sebuah rasionalitas bangsa yang beragam, meliputi agama, bahasa, budaya, dan ras yang terdapat dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila digali dari pandangan hidup bangsa Indonesia, yang merupakan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

Menelaah kembali mengenai sejarah pancasila hingga dapat menjadi dasar negara Indonesia dibutuhkan penjelasan yang cukup panjang. Van Der Kroef (1954) dalam bukunya yang berjudul “Pantjasila: The National Ideology of the New Indonesia” menyatakan bahwa pancasila yang berarti “lima pilar” merupakan poin-poin utama yang ditemukan berdasarkan analisis yang panjang dari keseluruhan komponen Indonesia itu sendiri. Pancasila juga merupakan Grundsnorm bagi konsensus untuk merekatkan aneka ragam kelompok masyarakat kepulauan yang besar jumlahnya, berbeda-beda dan hidup di kawasan yang luas untuk berdiri tegak di wilayah negara Indonesia yang dikenal sebagai the country of thousand impossibility (Somantri, 2006).

Pancasila terdiri atas lima asas moral yang relevan menjadi dasar negara Indonesia. Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa; dimana setiap warga negara dituntut untuk mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam, denagn konsekuensinya setiap pemeluk agama dapat saling menghargai satu sama lainnya. Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab; mengajarkan masyarakat untuk memperlakukan setiap orang denagn adil dan menjunjung tinggi harkat dan martabat hak asasi antar sesama. Makna untuk sila Ketiga, Persatuan Indonesia; yaitu menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa dan negara, masyarakat untuk mencintai tanah air, bangsa dan negara Indonesia, ikut memperjuangkan kepentingan-kepentingannya, dan mengambil sikap solider serta loyal terhadap sesama warga negara. Sila keempat, Kerayatan yang dipimpin oleh hikmat keijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yaitu mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam berpolitik dan dalam kepentingan berbangsa dan bernegara, serta mengajarkan kita untuk bertanggungjawab dalam kedudukan kita bernegara. Makna lima sila dalam Pancasila untuk sila Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; mengajak masyarakat aktif dalam memberikan bantuan terhadapat sesama sesuai dengan kemampuan dan kedudukan masing-masing kepada negara demi terwujudnya kesejahteraan umum, yaitu kesejahteraan lahir dan batin untuk sesama.

Mengkaji lebih dalam makna dari kelima tersebut maka munculah pertanyaan, “Bagaimana Komitmen Bangsa terhadap Dasar Negara Pancasila?” Penerapan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Dasar Negara Indonesia, semakin lama dirasa semakin bubrah. Banyak pelanggaran dan penyimpangan yang dilakukan baik pribadi ataupun golongan tertentu yang melakukan penyimpangan hanya untuk mencapai tujuan pribadi sehingga tidak peduli dengan dampak yang akan ditimbulkan bagi orang lain.

Penyimpangan terhadap Sila Pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa dapat dilihat dari konflik Poso, Serangkaian kerusuhan yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah yang melibatkan kelompok Muslim dan Kristen. Kerusuhan ini dibagi menjadi tiga bagian. Kerusuhan Poso I (25 – 29 Desember 1998), Poso II ( 17-21 April 2000), dan Poso III (16 Mei – 15 Juni 2000). Pada 20 Desember 2001 Keputusan Malino ditandatangani antara kedua belah pihak yang bertikai dan diinisiasi oleh Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian terjadinya Tragedi kemanusiaan Trisakti yang menewaskan mahasiswa yang berdemo untuk menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Mereka ditembak aparat keamanan ketika sedang melakukan aksi damai dan mimbar bebas di Universitas Trisakti. Tewasnya keempat mahasiwa tersebut menunjukan bahwa rasa kemanusian antar sesama sangat rendah. Tidak hanya itu, saat ini banyak sekali kasus kriminal yang semakin merajalela, mulai dari pembunuhan, pecurian, pembantain, perkosaan dan lain lain.

Penyimpangan juga terjadi pada sila ketiga, lepasnya Timor Timur dari NKRI mengindikasikan bahwa rendahnya persatuan di Indonesia. Republik Demokratik Timor Leste (juga disebut Timor Lorosa’e), yang sebelum merdeka bernama Timor Timur, adalah sebuah negara kecil di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan enklave Oecussi-Ambeno di Timor Barat. Sebagai sebuah negara sempalan Indonesia, Timor Leste secara resmi merdeka pada tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketika menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis “Timor Leste” sebagai nama resmi negara mereka. Kemudian, masalah lain juga timbul karena perilaku memalukan dari wakil rakyat. Sering kali para wakil rakyat mempertontonkan perilaku yang mencemaskan rakyat ketika menyelesaikan suatu masalah untuk kepentingan rakyat. Perang mulut sampai adu jotos diperagakan di depan kamera dan itulah yang mereka anggap kedewasaan dalam demokrasi, kebebasan berekspresi dan berpendapat. Anggota DPR adalah wakil rakyat dan tindakan brutal tersebut jelas menyimpang dari apa yang diamanatkan rakyat. Terakhir, nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah atapun batiniah. Namun yang terjadi sebaliknya, kemiskinan dan ketimpangan sosial terus meningkat.

Komitmen rakyat Indonesia terhadap Pancasila sangat ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia. Kegagalan penyelenggaraan amanah UUD dan paradoks karakter kekuasaan yang anti Pancasila juga menyebabkan krisis komitmen terhadap Pancasila terjadi saat ini. Seharusnya sebagai rakyat yang taat terhadap hukum kita memiliki komitmen terhadap pancasila dengan menjunjung semangat persatuan dan nasionalisme; rasa memiliki terhadap bangsa Indonesia; selalu bersemangat dalam berjuang; mendukung dan berupaya secara aktif mencapai cita-cita bangsa; dan melakukan pengorbanan pribadi.

oleh : Galuh Diap P. (Magang Edents 2013)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *