Kuliah Umum Arah Kebijakan Energi 2025 : Peluang dan Tantangan

FEB Undip (9/10) – “Sebenarnya Allah sangat cinta dengan Indonesia, dibuktikan Indonesia memiliki berbagai macam sumber energi dan sumber daya, tapi masyarakat belum ada rasa cinta terhadap Indonesia.” Hal inilah yang disampaikan Susilo Siswoutomo, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat memberikan kuliah umum, Kamis (9/10). Kuliah umum yang digelar dalam rangka memperingati Dies Natalis Undip ke-57 ini bertajuk “Arah Kebijakan Energi 2025: Peluang dan Tantangan”. Acara dimulai pukul 08.00 dan bertempat di Hall Gedung C FEB Undip.

Dalam materinya, Susilo Siswoutomo memaparkan kondisi energi di Indonesia saat ini. Ia menyatakan, kebutuhan energi tahun 2014 untuk BBM sebanyak 1,5 juta barel/hari atau sama dengan 240 juta liter/hari. Produksi minyak yang dahulu 100 persen dari minyak, sekarang 99 persen bahan campurannya adalah air, sehingga hanya 1 persen minyak. Sedangkan produksi minyak dapat mencapai 820 ribu barel/hari, sementara yang bisa diolah untuk kilang pertamina 650 ribu barel/hari. Sisanya merupakan bagian kontraktor yang mengusahakannya. Kapasitas kilang bisa 1 juta barel, sehingga pertamina impor 350 ribu barel/hari atau sebesar 35 juta/hari.

Ia juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 menyentuh angka enam persen dan pertumbuhan penduduk 1,1 persen sehingga pertumbuhan energi sebesar delapan persen per tahun, kebutuhan BBM setiap tahun naik delapan persen. “Tahun 2020 kebutuhan BBM bisa 2,2 juta barel/hari. Kalau tidak menemukan energi terbaru maka Indonesia tahun 2020 akan import 1,8 juta barel/hari,” ujarnya. Oleh karena itu, ia menilai Indonesia harus benar dalam mengelola energi maupun sumber daya.

Susilo melanjutkan bahwa LPG sebanyak 65 persen diimpor dan subsidi LPG tiga kilogram dapat mencapai 60 triliun dengan kebutuhan LPG tahun 2014 sebesar 4,6 juta ton. Produksi LPG dalam negeri 1,3 juta sehingga pemerintah mengimport 3,3 juta ton dan perlu 3,3 milyar dollar untuk impor LPG. Ia pun memaparkan bahwa tahun ini listrik yang terpasang sebanyak 50.000 megawatt, digunakan untuk pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan kegiatan industri. Indonesia perlu 6.000-10.000 megawatt/tahun sehingga listrik pun disubsidi oleh pemerintah. Tahun 2025 jumlah listrik yang harus dibangun sebesar 125.000 megawatt.

Susilo menjelaskan bahwa pemerintah memiliki program khusus pemerintah dalam tantangan energi Indonesia yaitu mencari dan menggali sumber migas Indonesia yang masih belum tergali. “Indonesia masih punya resources yang harus dicari. Selain itu, dilakukannya eksplorasi untuk menambah cadangan, mengurangi BBM dan peran rakyat Indonesia untuk berhemat energi,” ujarnya. Setelah sesi tanya jawab dan pemberian plakat, acara ditutup dengan penandatanganan perjanjian STEM Akamigas Cepu dengan LP2MP Undip. (nq)

Reporter : Anih Purwanti, Rio Putri

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *