Kuliah Umum bersama Purwiyanto Pranotosuwiryo

FEB Undip (8/9) – “Selamat datang di dunia perkuliahan, selamat berjuang!”. Inilah yang diucapakan Purwiyanto Pranotosuwiryo ketika mengawali sesi kuliah umum pada Senin (8/9). Bertempat di dome Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), kuliah umum ini diperuntukan bagi mahasiswa baru angkatan 2014. Dalam kuliah yang bertajuk “Anggaran Pendapatan Belanja Negara, Piranti Utama Campur Tangan Pemerintah dalam Perekonomian” tersebut, Purwiyanto menjelaskan mengenai prinsip-prinsip ekonomi yang dipakai dalam penyusunan APBN.

Purwiyanto Pranotosuwiryo merupakan lulusan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Pria yang akrab disapa Pur ini mengaku masuk kuliah pada tahun 1981. “Mahasiswa sekarang mencari buku sangat mudah, apalagi ada fasilitas internet. Kalau jaman saya dulu ketika menjadi mahasiswa di tahun 1981, mempunyai buku sudah dikatakan sangat beruntung,” kata Pur sembari mengenang masa-masa ia menjadi mahasiswa. Kini Purwiyanto bekerja sebagai Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara.

“Supaya lebih menyentuh dan agar tidak terlalu makro, saya lebih senang menyebutnya (topik kuliah umum –red) Urgensi dan Tantangan Penerapan Prinsip Ekonomi dalam Pengelolaan APBN di Indonesia,” tutur Pur saat menjelaskan mengenai pengantar kuliah. Ia juga mengatakan bahwa tak akan membawa materi yang terlalu dalam karena kebanyakan yang mengikuti kuliah umum adalah mahasiswa baru.

Dalam materi prinsip ekonomi, ia menjelaskan pentingnya pemanfaatan sumber daya. Sumber daya yang terbatas dihadapkan dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Untuk itulah diperlukan suatu alokasi barang yang akan dikonsumsi. Dalam konteks negara, alokasi tersebut disebut sebagai APBN. Apabila di dunia terdapat sumber daya yang tidak terbatas, maka tidak diperlukan adanya APBN. Selain itu, ia juga menjelaskan sedikit tentang isi dari APBN. Negara berjalan dengan adanya pembiayaan, itulah tujuan dibentuknya APBN. Namun dalam penyusunan APBN ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti asumsi keadaan makro, parameter-parameter, kebijakan yang akan diambil pemerintah, dan risiko. Kuliah umum yang dimoderatori oleh Hadi Sasana tersebut berlangsung sekitar dua jam. Pada akhir acara moderator dan pembicara saling bertukar cinderamata. (nq)

Reporter : Aditya Leonardus

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *