‘Kuriositas’ Pembaca yang Seolah Terdegradasi Zaman

Sebuah istilah tua yang tersohor, mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia, yang artinya adalah buku sebagai sumber dari segala pengetahuan. Pengetahuan yang nantinya akan mengantarkan kita untuk menjelajahi dunia yang amat sangat luas ini. Membaca merupakan salah satu cara berkeliling dunia dengan sangat mudah yang perlu kalian ketahui. Membaca secara harfiah berarti kegiatan meresapi, menganalisis, dan menginterpretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan.

     Sejatinya, manusia dilahirkan dengan berbagai kemampuan yang membekalinya termasuk juga dengan adanya hasrat yang membuat manusia dikenal sebagai makhluk dengan segala keingintahuannya akan sebuah masalah ataupun sesuatu hal lainnya di dalam dunia ini. Keingintahuan tersebutlah yang disebut dengan Kuriositas. Akan tetapi dewasa ini, kuriositas tersebut perlahan mulai terkikis zaman, ia berjalan beriringan dengan terkikisnya eksistensi buku yang semakin lama semakin memudar. Bukankah masalah tersebut akrab terdengar di telinga kita? Modernisasi, jelas menjadi dalang utama penyebab hal tersebut terjadi, yang seolah secara perlahan membunuh keingintahuan manusia serta mengikis eksistensi buku yang nyatanya menjadi sumber utama pengetahuan di dunia ini.

     J.W. School mengatakan bahwa modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan masyarakat dalam segala aspek, salah satunya adalah aspek teknologi. Jika mengingat hal tersebut dari segi segala aspek seperti yang disebutkan oleh J.W. School, harusnya dengan adanya modernisasi justru sangat bagus untuk dijadikan sebagai sarana mengembangkan ilmu pengetahuan dengan berbagai kemajuan serta inovasi khususnya dalam bidang pendidikan yang akan ditawarkan. Sayangnya hal tersebut bagaikan dua sisi mata pisau yang sama-sama tajam. Selain berbagai kemajuan yang ditawarkan oleh adanya modernisasi, hal tersebut ternyata juga dapat membuat keberadaan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan mulai menghilang. Bayangkan saja, bagaimana jadinya apabila keberadaan buku sebagai pondasi utama yang digunakan sebagai bekal penerus bangsa perlahan-lahan menghilang? Hancur? Bisa jadi.

     Perkembangan teknologi menjadi faktor yang digadang-gadang sebagai salah satu penyebab terkikisnya keberadaan buku, serta berkurangnya minat baca dan keingintahuan individu modern saat ini. Istilahnya kita sebagai masyarakat, sudah “diracuni” oleh keberadaan teknologi. Lihat saja kondisi yang ada, bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun individu modern tidak bisa lepas dari keberadaan gadget di sekitarnya. Parahnya lagi, dengan adanya fenomena tersebut, peran buku agaknya mulai tergantikan oleh keberadaan gadget yang dinilai lebih fungsional dan praktis. Sebelum adanya gadget, keberadaan perpustakaan dan toko buku menjadi sesuatu yang dibutuhkan dan dicari saat itu. Banyak yang rela menghabiskan waktunya untuk mencari-cari buku untuk mengobati rasa keingintahuannya. Akan tetapi semenjak adanya gadget, seorang individu dapat dengan mudahnya mencari sesuatu yang ia butuhkan di internet. Bahkan karena adanya teknologi, individu tersebut agaknya cenderung malas memegang buku bahkan untuk pergi ke perpustakaan atau pun ke toko buku.

     Faktor hilangnya eksistensi buku yang selanjutnya, adalah karena diri kita sendiri. Tidak bisa dipungkiri lagi, pada zaman globalisasi seperti saat ini, minat membaca buku kita semakin lama semakin menurun. Kesadaran akan membaca buku seakan hilang. Kita bahkan memilih untuk bermalas-malasan daripada membaca buku, padahal jika kita membaca buku, kita bisa menambah ilmu serta dapat menyehatkan otak kita. Sangat jelas faktor-faktor yang menyebabkan menurunnya minat baca di zaman modern ini seperti yang telah dijabarkan pada paragraf sebelumnya. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal seperti ini?

     Salah satunya adalah, peran pemerintah yang menjadi peran krusial untuk adanya revolusi ini. Kepedulian pemerintah untuk memperbaiki minat baca masyarakatnya, mungkin sudah mulai gencar dilakukan. Misalnya saja, kini sudah mulai banyak ditemukan perpustakaan-perpustakaan keliling atau bahkan peremajaan fasilitas perpustakaan guna membuat para pengunjungnya menjadi betah atau nyaman berada di dalamnya. Pada sisi lain, kesadaran diri sendiri juga mulai perlu untuk ditingkatkan. Jika saja setiap manusia di negeri ini mulai menyadari betapa pentingnya keberadaan buku sebagai jendela ilmu, mereka tentunya akan mulai untuk mempedulikan rasa keingintahuan mereka. Kemudian perlahan dapat meningkatkan minat baca mereka. Sejatinya, semua hal atau pun perubahan, terutama dalam suatu negara, dapat dimulai dari perubahan dan kesadaran di dalam diri setiap manusia yang ada di dalam negara tersebut. Maka dari itu, ayo kita sebagai masyarakat Indonesia yang baik, tingkatkan lah rasa peduli kalian terhadap keberadaan buku sebagai jendela ilmu, jika Indonesia kelak akan jadi negara yang maju. Siapa yang akan diuntungkan? Kita? bukan hanya kita, tetapi anak cucu kita kelak juga akan merasakannya.

satria1

Sequoia Mohammad Satrio R.

Mahasiswa D3 Akuntansi 2015, Universitas Diponegoro

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *