BEM Seluruh Indonesia Desak Jokowi atas Tiga Tuntutan

Jakarta (21/5) – Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) adakan aksi turun ke jalan di depan Istana Negara, Jakarta. Bukan tanpa dasar, aksi ini merupakan tindak lanjut dari hasil diskusi yang telah lama dibicarakan oleh pihak aliansi BEM SI. Aksi yang dinamai dengan “Aksi 21 Mei” ini dihadiri oleh lebih dari 2000 “pasukan” mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. “Mahasiswa turun ke jalan itu bukan tanpa dasar, aksi ini sebenarnya sudah dibicarakan lama. Dan perlu diketahui, kami disini melakukan aksi bukan untuk melengserkan pemerintahan Jokowi, bukan diitervensi ataupun “diboncengi” oleh kepentingan terkait” jelas Muhammad Naufal Thaha selaku Ketua BEM FEB Undip yang juga ikut turun dalam Aksi 21 Mei. Intinya, mahasiswa mengajukan tiga tuntutan nasional sebagai berikut;

Pertama, perihal masalah Blok Mahakam yang merupakan lokasi pertambangan minyak potensial di Kalimantan Timur. Terkait Aksi 21 Mei kemarin, mahasiswa ingin memperjelas keterangan verbal yang disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara, Pratikono, kemudian Andi Widjajanto selaku Sekretaris Kabinet, dan Luhut Panjaitan sebagai Kepala Staf Kepresidenan. Mereka kompak mengatakan bahwa pengelolaan Blok Mahakam untuk kontrak selanjutnya akan diberikan secara penuh kepada PT Pertamina. Kemudian untuk kedepannya, diharapkan pemerintah akan menetapkan peraturan yang mendukung PT Pertamina untuk pengelolannya mengingat Blok Mahakam ini merupakan proyek besar yang potensial. Ditakutkan, apabila transisi pengelolaan dari pengelola asing ke tangan PT Pertamina justru akan membuat produksi kapasitas minyak menurun.

Kedua, masalah PT Freeport. Sehubungan dengan adanya isu perpanjangan kontrak PT Freeport, Aksi 21 Mei menegaskan bahwa hal tersebut adalah tidak benar. Sampai saat ini, kontrak PT Freeport akan selesai pada tahun 2021, kecuali pada tahun 2019 nanti menurut prosedur akan dibicarakan mengenai perbaruan kontrak selanjutnya. Fokus tuntutan bukan terletak pada kejelasan kontrak PT Freeport melainkan adanya peraturan UU Minerba Tahun 2009. Berdasarkan peraturan tersebut, dikatakan bahwa perusahaan apapun yang bergerak di bidang pertambangan maupun mineral harus membangun Smelter. Smelter merupakan sebuah alat pengurai hasil tambang untuk mengetahui apa saja kandungan yang ada. Terkait PT Freeport yang sampai saat ini masih menolak untuk membangun Smelter di wilayah Papua, muncul dugaan adanya kandungan uranium di dalam hasil tambangnya. Uranium merupakan suatu kandungan kimia dengan daya nuklir yang mampu digunakan sebagai senjata pemusnah massal, juga harganya yang tergolong sangat tinggi.

Ketiga, masalah pro dan kontra subsidi BBM. Secara internal, perwakilan mahasiswa FEB Undip menyatakan pro untuk subsidi dihapuskan. Menurut mereka, anggaran untuk subsidi BBM bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur Indonesia. Di lain pihak, beberapa universitas menyatakan kontra dan menghimbau pemerintah untuk kenaikan dan penurunan harga BBM subsidi alangkah baiknya tidak terjadi terlalu fluktuatif, artinya dalam sebulan jangan sampai ada kenaikan dan penurunan BBM subsidi secara bebarengan. Juga penetapan harga BBM subsidi tidak seharusnya dilepas pada mekanisme pasar karena hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap konstitusi.

Setelah Aksi 21 Mei, dihasilkan satu kesepakatan bahwasannya pihak Istana Negara akan mengadakan diskusi publik pada Senin (25/5) mendatang. Kabarnya, Jokowi akan menjawab langsung ketiga tuntutan yang diajukan BEM SI dalam diskusi tersebut dan akan disiarkan langsung di seluruh televisi nasional di Indonesia. “Kita tunggu hari Senin itu seperti apa. Kalau pada kenyataannya jawaban Pak Jokowi tidak memuaskan, maka kita akan diskusi lagi. Jadi mahasiswa tidak langsung aksi, harus ada dikusi yang matang dan intelektual. Setelah hari Senin, kita baru bisa menentukan sikap selanjutnya. Saya harap Pak Jokowi benar akan melakukan diskusi terbuka dengan kita, karena yang kita tahu selama ini Pak Jokowi tidak mau diajak diskusi langsung bersama kita,” tutup Naufal. (gt)

Reporter: Benna Andriyani

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *