Masalah di Berbagai Lini, Potret Indonesia Masa Kini

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang tinggi. Sudah 71 tahun negara ini berdiri, tapi masih saja digerogoti ‘penyakit’ tiada henti. Masalah terus menerus mendatangi ‘ibu pertiwi’. Ironisnya, tak hanya datang dari luar Indonesia, masalah justru timbul dari warganya, apalagi pemangku kekuasaan yang dibutakan oleh hasrat membabi buta. Krisis moral yang melanda tak hanya dapat kita temukan di kalangan penguasa, namun dapat kita temukan juga pada generasi penerusnya. Korupsi, pergaulan bebas, dan narkoba merupakan sedikit potret dari banyaknya masalah moral yang ada di Indonesia. Permasalahan yang ada semakin parah dan perlahan menuntun Indonesia ke arah kiblat kehancuran. Jika di masa sekarang penguasa dan calon pemimpin yang ada seperti ini, bagaimana kelak nasib negeri ini kini dan nanti?

Mari kita kupas satu per satu beberapa permasalahan yang melanda. Korupsi, kata yang tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia tahu. Sebut saja kasus Century, Hambalang, E-KTP, hampir semua masyarakat Indonesia tahu akan peristiwa tersebut. Bahkah nama-nama ‘aktor’ korupsi di Indonesia seperti Gayus Tambunan dan Anas Urbaningrum tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Menurut Transparency Internasional, pada tahun 2016, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia adalah 37 dan menduduki peringkat 90 dari 176 sebagai negara terkorup di dunia. Sebuah catatan yang sangat buruk bagi Indonesia.

Korupsi sendiri tanpa disadari perlahan tertananam di jiwa pemuda Indonesia. Mari kita ambil contoh sederhana. Sudah bukan menjadi rahasia lagi apabila pelajar Indonesia sering melakukan kecurangan dalam ujian di sekolah. Dari menyontek hingga melakukan transaksi kunci jawaban dilakukan demi mendapat hasil yang maksimal. Jika kita tinjau dari segi agama, apabila seseorang melakukan kecurangan dalam ujian, lalu mendapat nilai bagus yang nantinya tertera dalam ijazah, dan ijazah tersebut nantinya akan digunakan untuk melamar pekerjaan, lalu mendapatkan penghasilan, apakah penghasilan tersebut tergolong haram? Tidak sampai di situ saja, perilaku menyontek lambat laun akan menjadi kebiasaan jika sering dilakukan. Pada akhirnya terbawa hingga dewasa dan menerapkannya ke dalam segala aspek kehidupan. Timbulah perilaku tidak beradab bernama korupsi.

Tak kalah terkenal dengan korupsi, pergaulan bebas juga menjadi ancaman terbesar bagi generasi muda. Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM), tingkat remaja putri yang hamil di luar nikah dan berupaya untuk aborsi mencapai 58 persen. Angka yang cukup mengkhawatirkan bagi generasi muda Indonesia. Hal tersebut berdampak dari kurangnya penanaman moral dan mental yang baik serta pengawasan yang dinalai lalai. Penguatan nilai-nilai pancasila dan agama mutlak perlu dilakukan sejak dini. Pemberian pembelajaran yang hanya menyinggung akademik jelas tidak cukup.

Berlanjut ke momok menakutkan selanjutnya, yakni narkoba. Narkoba kini menjadi salah satu masalah terbesar yang wajib diperhatikan. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan bahwa ada sekitar 5,8 juta jiwa pecandu narkoba di Indonesia (pada tahun 2015) yang terdiri dari penduduk usia 10 hingga 59 tahun. Ada sebanyak 15 ribu pecandu narkoba yang meninggal dunia setiap tahun atau 40 sampai 50 jiwa per hari. Dan lebih parahnya lagi, 22% total pengguna narkoba adalah mahasiswa dan pelajar. Dari data tersebut, jumlah pengguna narkoba meningkat dari 4,1 juta jiwa pada tahun 2014.

Jika dikaitkan dengan bonus demografi yang santer diberitakan akan diterima Indonesia, bukankah data narkoba tersebut justru menjadi dilema bagi Indonesia? Berkaca pada data BNN tersebut, bukan hal yang tidak mungkin jika nantinya pengguna narkoba di Indonesia terus meningkat. Tentu saja hal itu akan berpengaruh dan mematahkan pernyataan yang memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang cukup besar di masa mendatang. Tidak dapat dipungkiri pula bila di tahun 2030 nanti, Indonesia akan menghadapi masalah narkoba yang amat besar pada penduduknya. Peningkatan demografi akan menjadi lebih baik jika selaras atau berbanding positif dengan perbaikan moral dan mental.

Dari berbagai macam masalah, mari kita sebagai bangsa Indonesia tetap menjaga dan menjunjung nilai-nilai positif yang ada. Terlepas dari masalah-masalah yang muncul, kita harus mampu mempertahankan hal-hal benar yang sudah kita lakukan. Jangan sampai konsistensi kita menjaga yang sudah benar menjadi terpengaruh masalah-masalah yang kini melanda Indonesia. Kuatkan moral serta mental demi Indonesia yang lebih baik.

*Penulis merupakan mahasiswa aktif Departemen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Diponegoro, Semarang

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *