Menelisik Kesehatan Keuangan Indonesia dalam Kuliah Umum BI

FEB Undip (25/9) – Bank Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) mengadakan kuliah umum dalam rangka Sosialisasi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Posisi Investasi Internasional Indonesia (PIII). Kuliah umum ini berlangsung pada Kamis (25/9) di Hall Pertamina Gedung Dekanat FEB Undip. Hadir sebagai pembicara Endy Dwi Tjahjono (Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia) dan Agung Wicaksono (Staf BI).

Kuliah umum dibuka oleh Pembantu Dekan I FEB Undip, Anis Chariri. Dalam kuliah umum ini dijelaskan mengenai kegunaan neraca pembayaran (NP) dan posisi investasi internasional yang dapat digunakan untuk mengetahui informasi kesehatan keuangan suatu negara akibat transaksi ekonomi yang dilakukannya dengan negara lain. Endy menuturkan, neraca pembayaran adalah seluruh transaksi ekonomi yang dilakukan antara penduduk dengan bukan penduduk. Sedangakan posisi investasi internasional adalah statistik yang menunjukkan nilai aset dan kewajiban finansial suatu perekonomian kepada bukan penduduk dalam suatu waktu tertentu.

“Neraca pembayaran menggambarkan daya saing, semakin kuat daya saing suatu negara neraca pembayaran kita semakin baik. Semakin besar ekspor kita, neraca pembayaran kita semakin baik, sedangkan kalo impor lebih besar neraca pembayaran kita akan memburuk,” tutur Endy.

Selanjutnya Agung menjelaskan mengenai perkembangan terkini neraca pembayaran Indonesia (NPI). Agung mengatakan, defisit transaksi berjalan meningkat dari USD 4.2 miliar (2.05 persen dari PDB) pada triwulan I 2014 menjadi USD 9.1 miliar (4.27 persen dari PDB), dikarenakan menipisnya surplus neraca perdagangan non migas dan meningkatnya defisit neraca perdagangan migas. “Tetapi  pada triwulan dua 2014 lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013, mencapai USD 10.1 milyar (4.47 persen dari PDB) dimana kebijakan stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah untuk meredam impor,” tambahnya. Dijelaskan pula oleh Agung bahwa surplus neraca perdagangan non migas pada triwulan II 2014 sebesar USD 2.7 miliar lebih rendah dari triwulan tahun sebelumnya sebesar USD 6.1 miliar. Hal ini dikarenakan kenaikan impor non migas yang lebih besar dari kenaikan ekspor non migas terkait pemenuhan kebutuhan saat Idul Fitri.

Pada saat sesi pertanyaan ada satu pertanyaan peserta kuliah umum yang menurut Endy menarik, yakni apakah jika semakin terbuka perekonomian suatu negara akan membutuhkan investasi yang lebih besar dan apakah investasi dengan pertumbuhan ekonomi saling berhubungan. Menurut Endy semakin terbuka suatu perekonomian negara maka negara itu akan membutuhkan lebih banyak investasi. Sedangkan investasi dan pertumbuhan ekonomi saling berhubungan karena investasi ialah salah satu indikator capaian pertumbuhan ekonomi. Kuliah umum ditutup oleh Anis Chariri dengan memberikan kesimpulan kuliah umum dan pemberian kenang-kenangan kepada pembicara serta foto bersama. (nq)

Reporter: Ari Nugroho

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *