Mengalami Indonesia Yang Sebenarnya

FEB Undip (10/3) – Purbayu Budi Santoso, salah satu guru besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), tahun ini menerbitkan sebuah buku kajian ekonomi berjudul “Mengalami Indonesia: Himpunan Kesaksian atas Wajah Perekonomian Indonesia”. Buku ini merupakan salah satu buku yang dikupas dalam acara bedah buku di Hall Gedung C lantai 4 FEB Undip, Senin (10/3). Salah satu rangkaian acara Dies Natalis FEB ini menghadirkan Nugroho Sumarjiyanto sebagai pembedah buku dan Hendy Aprilian Hidayat, mahasiswa jurusan IESP angkatan 2010 sebagai moderator.

Menurut Purbayu, buku ini hadir karena ia melawan sebuah kutipan, “Banyak baca banyak pusing, sedikit baca sedikit pusing, tidak membaca tidak pusing”. Dekan FEB Undip, Mohamad Nasir, dalam sambutannya mengatakan bahwa buku ini merupakan langkah kecil untuk menjawab tantangan zaman.

Mengalami Indonesia terbit 428 halaman dan terdiri dari tujuh bagian, yakni Pertanian Genting tapi Tidak Penting, Menyoal Industri Rokok, Kepemimpinan dan Keteladanan, Fenomena Indonesiana, Menerka Kebijakan Pembangunan, Tantangan Ekonomi Global dan yang terakhir adalah Peran dari Generasi Muda. Menurut Nugroho, hal menarik dalam buku ini adalah bagian pertama, Pertanian Penting tapi Tidak Genting. Ia menangkap maksud dari penulis jika  sebenarnya sektor pertanian itu penting. Namun demikian, apabila dilihat kinerjanya, sektor pertanian harus dikategorikan sebagai sektor gawat darurat atau genting. “Tetapi kebijakan pemerintah tidak menganggap bahwa sektor pertanian sudah genting,” imbuhnya.

Dalam buku ini dibahas pula ketidaksinkronan data produksi beras antara BULOG, BPS, dan pemerintah. Di satu sisi, produksi dikatakan cukup, tetapi disisi lain impor tetap dilakukan, meski impor akan mematikan produksi petani domestik. Di bagian lain, liberalisasi sektor pertanian Indonesia dengan menghapuskan subsidi pupuk dan pestisida digadang-gadang sebagai upaya patuh pada prinsip perdagangan bebas. Padahal jika menengok ke negara maju, produksi pangan tetap disubsidi oleh pemerintah.

Masalah lain yang dikupas dalam acara ini adalah menyoal industri rokok. Menurut Purbayu, perang terhadap rokok kretek di Indonesia memiliki agenda tersembunyi untuk memenangkan industri rokok putih milik asing. Tak ketinggalan, mobil Esemka yang sempat heboh ditengah masyarakat Indonesia pun diulasnya. Penulis melihat tidak lolosnya uji emisi mobil karya anak bangsa ini adalah konspirasi pihak pemerintah dan para agen mobil asing. Pun mengenai pengembangan ekonomi kerakyatan (UMKM –red) dengan mencintai produk dalam negeri.

Di akhir pembahasannya, Nugroho memberikan catatan positif bahwa buku “Mengalami Indonesia” kaya akan materi mengenai berbagai persoalan ekonomi Indonesia. Selain itu dikemas secara kritis dan mudah dipahami karena merupakan kumpulan tulisan ilmiah popular di surat kabar. Nada pesimisme terhadap perekonomian Indonesia juga menonjol di dalam buku ini.

“Investasi hingga saat ini hanya terfokus pada perusahan-perusahaan besar dan bukannya kepada ekonomi-ekonomi kecil,” tukas salah seorang peserta. Menurutnya, ekonomi-ekonomi kecil (UMKM –red) yang sebenarnya lebih membutuhkan dana untuk mengembangkan usahanya agar dapat bersaing di Indonesia. “Memang harusnya ya seperti itu. Investasi ini harus banyak untuk UMKM karena dapat menyerap banyak tenaga kerja,” ujar Purbayu menanggapi pernyataan tersebut. (nq)

Reporter : Dilla dan Dara

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *