Menteriku Sayang, Menteriku Diganyang

images (3)

Apa lagi yang lebih hangat belakangan ini selain masalah “Papa minta saham” ?

Saya akan berbicara dari perspektif warga negara biasa yang mengikuti berita melalui televisi dan koran. Mungkin jauh dari kemampuan saya untuk menganalisis tentang Freeport, Majelis Kehormatan Dewan (MKD), legalitas rekaman, dan segala macam ‘barang panas’ tersebut. Namun, saya ingin menyikapi bagaimana Menteri kita (Sudirman Said –red) menghadapi segala macam ‘anak panah’ yang menyerangnya.

Bagaimana tak saya sebut anak panah jika niat baiknya memberantas korupsi atau yang akrab disebut permufakatan jahat dijegal dari segala arah? Kita sudah melihat apiknya sandiwara para pemain pentas Senayan dalam perannya di atas “panggung” bernama Mahkamah Kehormatan Dewan.

Saya sendiri sebenarnya masih ragu atau lebih tepatnya bingung, apakah semua yang dikatakan menteri kita ini benar? Mungkinkah sebenarnya masalah ini dibelokkan kebenarannya karena ada yang merasa tersinggung? Haruskah saya memperhatikan pihak yang ‘tersinggung’ tadi?

Di sini saya tidak berbicara tentang hukum karena jujur buat saya itu sungguh memuakkan. Bagaimana tidak? Dalam permasalahan sidang kemarin saja, dari satu kitab yang sama, para Yang Mulia dapat membuat beberapa tafsir yang berbeda untuk satu permasalahannya dengan merujuk pada pasal-pasal yang ada.

Mungkin ada yang saya lewatkan, tafsir dari setiap manusia akan sesuatu baik itu pasal ataupun lainnya pasti akan berbeda. Tapi bukankah pasal dibuat sedemikian rupa untuk menghindari multitafsir? Karena kehebatan orang-orang yang mengerti hukum atau malah sebenarnya tidak mengerti membuat hukum begitu membingungkan di mata saya.

Saya juga pesimis akan berakhir seperti yang saya harapkan, yang kebanyakan warga Indonesia harapkan. Jadi jikalau ini tidak bermuara pada yang seharusnya atau malah tidak bermuara sama sekali dan menguap di tengah jalan, maafkan saya jika saya sudah tidak lagi percaya kepada kalian yang Mulia Mahkamah Kehormatan Dewan.

Terakhir, bersabarlah menteriku jika kau yakin kau benar. Kebenaran akan selalu ditegakkan walaupun itu di hari akhir nanti. Saat persidangan dipimpin oleh hakim yang paling adil, yaitu Sang Maha Kuasa. (nw)

Semarang, 8 Desember  2015

Adhevyo Reza

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *