Ngopi, Gema Keadilan Ajak Diskusi dan Edukasi

Pernahkah anda risih saat menonton acara TV belakangan ini? Sensor yang dilakukan oleh pihak regulator tampak semakin ketat. Hal ini mengundang sejumlah penggiat jurnalisme Undip mengadakan diskusi terkait kegiatan “sensor”

Bertempat di gedung Litigasi Fakultas Hukum, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gema Keadilan adakan Ngopi “ Ngobrol Pintar” dengan tema sensor pada tayangan televisi. Acara yang digelar pada Kamis, 24 Maret 2016 menghadirkan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah, Hendra kirana, produceer news Net TV Jawa tengah, Noviar Jamal Kholit dan perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, Arip.

Acara dibuka dengan pemaparan dari pihak KPID Jawa Tengah, Hendra Kirana, ia menyampaikan bahwa lembaga yang berwenang untuk melakukan sensor adalah Lembaga Sensor Film (LSF) dan bukan merupakan kewenangan dari pihak KPI. Banyaknya tuduhan yang dilayangkan kepada KPI tentang sensor yang sebenarnya menurut Hendra merupakan salah alamat. Kewenangan dari pihak KPI adalah melakukan pemberian izin dan pengawasan kepada pihak stasiun TV. Seperti yang belakangan ini terjadi yang menimpa artis dangdut, Zaskia Gotik, yang mencemarkan lambang Negara, KPI lah yang memberikan teguran kepada pihak Stasiun TV.

Diskusi pun dilanjutkan dengan penjelasan dari  sudut pandang stasiun TV, yaitu Net TV. Jamal Kholit pun turut menyampaikan beberapa hal yang berbeda. Bukan dari sensor melainkan dari sisi penyiaran. Menurutnya pihak stasiun TV tempat ia bernaung, lebih mengutamakan ketepatan dan kwalitas tayangan. Namun disisi lain, jika suatu tayangan memang harus disensor meskipun ada unsur penting maka tayangan tersebut tetap akan disensor.

Ia pun menambahkan bahwa regulasi tentang pengkategorian tayangan televisi yang untuk anak-anak, remaja, dan dewasa pun belum bisa diaplikasikan secara sempurna. Serta tidak adanya jaminan hal tersebut (pengkategorian) akan dipatuhi. Menurut Jamal, peran hati nuranilah yang cukup penting dalam pemilihan tayangan yang layak disiarkan

Diskusipun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah seorang peserta mempertanyakan, apakah dirinya bisa menuntut atas kesalahan dari penayangan pihak stasiun TV. Karena menurutnya terjadi kesalahan tayangan dan informasi dalam penampilan berita tari Saman di TV dan adanya sensor yang dilakukan terhadap pakaian kebaya Putri Indonesia. Diskusi pun dilanjutkan dengan penjelasan dari pihak KPID yang menjawab tentang kualitas sinetron di Indonesia yang kurang mendidik. Menurutnya, beberapa stasiun TV sudah mendapatkan beberapa kali teguran perihal tayangan mereka yang dianggap tidak mendidik, di mana dalam sinetron Anak Jalanan, yang mengajarkan tentang balapan dan kekerasan, lalu berbagai macam sinetron dengan tokoh setengah manusia dan setengah binatang yang dianggap tidak mendidik, pun tidak luput dari teguran.

“Oleh karena itu setiap isu-isu yang ada baik isu kampus, regional , nasional maupun internasional itu akan selalu kita bahas di diskusi Ngopi,” ungkap Belle Risca saat ditanya tujuan diselenggarakannya acara Ngopi. Menurut Belle alasan mengangkat tema sensor pada televisi Indonesia karena adanya kesalahpahaman di masyarakat akan sensor yang mulai banyak terjadi ditayangan televisi Indonesia. Ia pun menambahkan bahwa para netizen sering melakukan kesalahan dengan langsung memutuskan bahwa itu merupakan kesalah KPI. “Itulah yang ingin kita bahas, kesalahpahaman masyarakat yang beredar sehingga diskusi ini tidak hanya mengedukasi tetapi kita juga membuat diskusi,” tambahnya.

Adanya penurunan jumlah peserta menjadi kendala bagi panitia. “Mungkin kalau yang Ngopi sekarang sedikit berkurang, mungkin karena ruangannya pindah juga. Yang tadinya di H. 308 jadi di Gedung Litigasi karena lagi ada ujian skripsi,” ujar Belle. Belle berharap acara Ngopi selanjutnya lebih baik lagi, bukan dari segi kuantitasnya tapi lebih ke segi kualitas acaranya. (nw)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *