Ngopi : Melihat Pers dari Kacamata Hukum

PhotoGrid_1449327874816[1]

Undip (5/12) – Maraknya pengekangan terhadap pers menciptakan polemik bagi jurnalis. Pers tidak dapat menyiarkan beritanya secara bebas. Hukum yang seharusnya melindungi jurnalis menjadi tak berdaya di depan desakan para pemangku kepentingan. Mereka yang merasa terpojok atas berita yang dimuat menjadikan kasus kekerasan terhadap wartawan pun tidak dapat dihindari. Guna meningkatkan pengetahuan mengenai kode etik jurnalis dari sisi hukum,  Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan (LPM GK) mengadakan kegiatan bertajuk Ngobrol Pintar (Ngopi). Kegiatan ini diselenggarakan tiap bulan dan sekarang memasuki bulan ketujuh. Ngopi diadakan sekaligus untuk me-launching produk-produk LPM GK yakni majalah LPM GK No. 2 tahun ke-38, jurnal LPM GK No. 2 tahun ke-39, dan G’Corner LPM GK edisi 8 tahun ke-38. Ngopi kali ini mengangkat tema Hukum dan Pers: Melihat Pers dari Segi Hukum.

Acara dimulai pukul 09.45 dan dibagi menjadi dua sesi.  Sesi pertama berupa pemaparan materi dari pembicara-pembicara yang hadir. Pembicara pertama yakni Mohammad Muchsin selaku produser sistem stasiun televisi ANTV. Ia memaparkan empat kendala pers,  yakni tidak lepas dari bisnis, dikuasai pemilik modal yang berafiliasi dengan kepentingan tertentu, integritas wartawan akan ancaman keselamatannya, dan intervensi pihak tertentu.

Materi dilanjutkan dengan pemaparan dari Hasyim Asy’ari selaku akademisi Fakultas Hukum Undip. Ia mengatakan bahwa kebebasan Pers diatur dalam UU No.40 Tahun 1999 pasal 4 yakni menjamin kebebasan pers dalam bentuk tidak dapat dikenakan sensor dan pemberedelan. Hasyim juga menyebutkan bentuk-bentuk pemberedelan pers pada orde baru yakni pencabutan atau pembekuan Surat Izin Terbit (SIT) dan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh pemerintah. Sementara pada era reformasi, pemberedelan dapat berupa ancaman hingga kekerasan terhadap wartawan.

Narasumber ketiga yakni Abdus Somad dari Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia. Ia menyampaikan contoh pemberedelan dari kasus perdagangan narkoba di balik penjara. Para pengedar narkoba dibiarkan lalu lalang mengadakan transaksi jual beli narkoba hanya dengan menyuap sipir. Wartawan yang ingin mengangkat berita ini pun mendapat ancaman. Setelah semua pembicara selesai menyampaikan materinya, acara dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu launching produk LPM GK .

Tandi Arion selaku ketua panitia mengatakan bahwa masalah perizinan menjadi kendala panitia dalam menggelar Ngopi kali ini. Sulitnya mendapatkan pembicara yang mumpuni di bidang pers dan hukum juga menjadi kendala. Namun ia merasa puas karena acara dapat terlaksana dengan baik.

Acara Ngopi ini mendapat tanggapan positif dari peserta yang datang. Salah satunya dari Jury, mahasiswa Fakultas Hukum. “Acaranya bagus, memberikan pengetahuan dan tema yang diangkat tentang  pers cukup penting,” ungkapnya. Ngopi edisi ketujuh berakhir pukul 15.50. (nw)

 Reporter : Abdan, Herdini

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *