Pembangunan Kependudukan Pasca-2015

(dok.Edents)
(dok.Edents)

FEB Undip (24/3) – Program Generasi Berencana (GenRe) bertujuan untuk membangun ketahanan keluarga dan kualitas remaja dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga. Hal ini disampaikan oleh Deputi Keluarga Sehat dan Pemberdayaan Keluarga BkkbN Sudibyo Alimoeso dalam acara pelantikan IPADI (Ikatan Peminat dan Ahli Demografi) cabang Semarang dan seminar pembangunan kependudukan dalam pembangunan pasca-2015. Selain menghadirkan Sudibyo Alimoeso, acara yang bertempat di Hall Gedung C lantai 4 FEB Undip ini dihadiri pula oleh beberapa petinggi seperti Prijono Tjiptoherijanto (Ketua IPADI Pusat), Ibram Syahboedin (BPS Jawa Tengah), Sudharto P. Hadi (Rektor Undip), serta Mohamad Nasir (Dekan FEB Undip). Selain itu, tamu undangan yang berasal dari berbagai instansi serta mahasiswa pun turut serta mengikuti seminar yang digelar pada Senin (24/3) ini.

Acara yang dimulai pukul 09.30 WIB ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta doa bersama. Kemudian dilanjutkan dengan pelantikan IPADI cabang Semarang periode 2013-2016 dengan ketua umum Herniwati Retno Handayani yang juga merupakan dosen FEB Undip. Pelantikan diawali dengan pembacaan naskah keputusan oleh MC, lalu penandatangan surat keputusan dan berita acara oleh Sudharto, Sudibyo, Herniwati, dan Prijono.

Usai pelantikan, dilanjutkan dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Prijono selaku Ketua IPADI pusat. Dalam sambutannya, ia menceritakan asal mula terbentuknya IPADI. IPADI terbentuk pada 19 Desember 1973 di Pandaan, Jawa Timur dengan ketua pertama Natanael Iskandar. Kemudian digantikan oleh Kartomo Wirosuhardjo, Haryono Suyono, dan Rozi Munir berturut-turut. “IPADI sebenarnya hampir 10 tahun tertidur, namun pada Oktober 2013 membentuk kepengurusan baru melalui kongres IPADI yang diadakan setiap 3 tahun sekali,” ujarnya. Ia menyatakan bahwa Kota Semarang ialah cabang ketiga IPADI setelah Pontianak dan Pekanbaru.

Sudharto pun mengucapkan terima kasih dan selamat kepada seluruh pengurus IPADI cabang Semarang sekaligus membuka acara secara simbolis. Sebelum memasuki acara inti yakni seminar, peserta disuguhi penampilan dari Economic Voice. Bertindak sebagai moderator ialah Suharnomo.

Pembicara pertama, Ibram Syahboedin menjelaskan mengenai proyeksi penduduk. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa banyak data penduduk yang tidak di-update. “Hasil proyeksi penduduk sebenarnya sangat sederhana tetapi bagaimana kita mendalami hasil tersebut sebaik-baiknya,” tuturnya.

Sudibyo memberikan materi kedua mengenai GenRe dan Bonus Demografi. Bonus demografi dikaitkan dengan munculnya suatu kesempatan, the window of opportunity (jendela peluang) yang dapat dimanfaatkan untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat. Saat ini Indonesia menikmati bonus demografi karena penurunan fertilitas. The window opportunity terjadi pada tahun 2028-2032 dimana dependency ratio mencapai titik terendah yaitu 46,7 per 100. Namun ratio ketergantungan yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk menurun dari 50,5 (2010); 47,7 (2020); menjadi 46,9 (2030) per 100 penduduk. Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa Tenaga Kerja Indonesia tidak terampil, dibuktikan dengan angka sekitar 86,5 persen pekerja di sektor indutri masuk kategori tidak termapil, 9,7 persen sedikit terampil, dan 3,8 persen terampil. Sudibyo juga menjelaskan bagaimana perilaku remaja saat ini yang sangat jauh dari norma yang ada.

Selanjutnya, Prijono menyampaikan materi tentang peran kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) dalam pembangunan pasca-2015. Mega tren persoalan kependudukan Indonesia saat ini dalam masa mendatang meliputi, besarnya jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk yang belum mencapai kondisi ideal, besarnya proporsi penduduk usia produktif dan penduduk usia muda sampai sekitar tahun 2030, jumlah dan proporsi penduduk usia lanjut akan mengalami peningkatan yang sangat pesat setelah tahun 2030, serta meningkatnya proporsi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan dari kondisi saat ini sekitar 50 persen menjadi sekitar 75 persen tahun 2050.

Pesoalan kependudukan Indonesia akan semakin kompleks di masa mendatang. Dilihat dari dinamika kependudukan yang ada paling tidak ada beberapa persoalan pokok yang harus diantisipasi yakni penduduk Indonesia masih akan terus bertambah, Indonesia sedang menikmati bonus demografi sampai dengan tahun 2030, setelah tahun 2030 Indonesia memasuki era penduduk lanjut usia, dan distribusi penduduk Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera dengan proporsi yang tinggal diperkotaan akan terus meningkat. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada para pembicara dan ditutup oleh MC. (nq)

 

Reporter : Anih Purwanti

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *