Peringati Kedatangan Cheng Ho, Warga Tionghoa Semarang Adakan Arak-arakan Sam Poo

IMG_20160731_081801[1]
Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, membawa Kio (tandu) berisi arca Sam Poo

Kongco Sam Poo Tay Djien atau lebih dikenal sebagai Laksamana Cheng Ho adalah seorang pelaut Muslim dari negeri Tiongkok yang pernah singgah di beberapa tempat di Indonesia, salah satunya di Semarang. Hampir tiap tahun warga etnis Tionghoa di Semarang memperingati peristiwa tersebut dengan serangkaian acara. Tahun ini adalah perayaan 611 tahun kedatangan Cheng Ho, dengan acara puncaknya adalah kirab Arak-arakan Sam Poo yang diadakan pada Minggu (31/7).

Kirab dengan berjalan kaki tersebut dimulai pukul 05.00 WIB dari Klenteng Tay Kak Sie yang berada di Gang Lombok daerah Pecinan, menuju Klenteng Agung Sam Poo Kong di daerah Simongan. Peserta kirab terdiri dari drum band dan Naga Doreng dari Batalyon Arhanudse 15 Kodam IV Diponegoro, sasana barongsai dan komunitas Tiongkok dari berbagai daerah di Indonesia, komunitas pegiat wisata, Denok-Kenang Semarang, hingga kesenian daerah Jawa Tengah seperti Jatilan dan Barongan. Rute perjalanan dari Gang Lombok menuju Gang Warung, Jalan Kranggan, Jalan Depok, dan berhenti sejenak di Jalan Pemuda.

Di Jalan Pemuda, rombongan memanjang dari depan Kantor Balaikota Semarang hingga Lawang Sewu, menampilkan atraksi yang menarik para warga yang sedang mengikuti Car Free Day. Kemudian kirab berjalan melewati Jalan MGR Sugijopranoto, Jembatan Banjir Kanal Barat, Jalan Bojongsalaman, Jalan Simongan, dan berakhir di Klenteng Sam Poo Kong.

Tepat pukul 08.00 WIB bedug dan lonceng dari Klenteng Besar dibunyikan saling bersahutan sebagai penyambutan rombongan kirab. Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, yang sebelumnya berada di dalam Klenteng Besar bersama pimpinan Klenteng Sam Poo Kong dan Klenteng Tay Kak Sie, turun untuk membawa Kio (tandu) besar berisikan Kimsin (arca) Cheng Ho yang dibawa rombongan menuju halaman Klenteng Besar. Kio tersebut ditaruh di halaman klenteng untuk selanjutnya umat Tionghoa berdoa di hadapan maupun sekelilingnya. Lalu disusul kemudian Kio dan Kimsin Cheng Ho dari Palembang, Bandung, Sidoarjo, dan Tangerang, lalu bergiliran dari sasana barongsai memasuki halaman klenteng untuk melakukan ritual serta atraksi.

Kirab budaya ini menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung Klenteng Sam Poo Kong. Mereka manfaatkan untuk berfoto ria bersama peserta kirab, melihat atraksi, dan secara tidak langsung belajar mengenai ritual keagamaan umat Tionghoa, dengan tetap menghormati umat yang sedang beribadah di dalam klenteng. Panitia juga menyediakan stand-stand kuliner dan pernak-pernik khas Tiongkok di dekat pintu masuk.

Menurut Makmur, salah satu umat Tionghoa peserta kirab, acara tersebut cukup sukses. “Anak-anak muda bisa menambah ilmu (tentang budaya dan ritual Tionghoa-red), dan inilah ciri khas Pancasila. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Tionghoa, tapi juga yang lain.” kata beliau yang berasal dari Palembang.

Pihak panitia juga mengundang beberapa ormas Islam sebagai peserta kirab, beberapa yang datang adalah Ikatan Pemuda Masjid Raya Baiturrahman (IKAMABA) Semarang dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). “Kita diajak bersama-sama ikatan pemuda tionghoa yang kita sebelumnya pernah mengadakan acara. Senang, kita bisa berpartisipasi, jadi bagian dari acara ini, meskipun tidak banyak yang bisa kita lakukan tapi kita sudah berpartisipasi menyaksikan kegiatan ini. Dan kita banyak mendapatkan ilmu, karena bertemu dengan ketua PITI Semarang dengan ketuanya pak Maksum.” kata Asrul Sani, pembina IKAMABA.

Reporter : Niki Agni Eka Putra

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *