Pilkada 2017: Sosialisasi Demi Terwujudnya Demokrasi

Retno-Setianingrum

     Semarak pilkada serentak tahun 2017 di 7 provinsi dan 94 kabupaten/kota memang kurang terasa, terlebih lagi media publik hanya menyoroti satu daerah saja. Terbukti dengan adanya debat calon gubernur DKI Jakarta yang diliput oleh hampir seluruh stasiun televisi  baik dalam acara berita maupun live report. Beberapa calon kepala daerah baik kota, kabupaten, ataupun provinsi dirasa kurang mengadakan daya dan upaya sosialisasi atau kampanye untuk meyakinkan masyarakat agar tidak salah memilih. Pesta demokrasi menjadi kurang semarak karena kebanyakan media menyoroti isu kontinuitas penistaan agama salah satu calon kepala daerah bukan teknis pilkadanya.

     Sosialisasi dalam pilkada sangatlah penting bagi masyarakat agar dapat memilih calon kepala daerahnya secara objektif berdasarkan visi-misi yang diusung. Hubungan visi, misi dan program dapat menjadi tolak ukur dalam melihat kapasitas para kandidat. Namun sayangnya sosialisasi di setiap daerah sangatlah kurang karena disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu kurangnya koordinasi antar stakeholder dalam melakukan sosialisasi. Seperti yang telah dikatakan salah satu panitia penyelenggara pilkada Jimly Asshiddiqie, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) “Kalau hanya diserahkan ke KPU saya ragu karena kesibukan teknisnya banyak sekali, anggaran terbatas, maka sebaiknya nanti ada Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) yang dihadiri Presiden Jokowi dan stakeholder, ada Rakornis (Rapat Koordinasi Teknis) dengan semua media, dan ada upaya khusus seperti partisipasi pengusaha untuk menyalurkan CSR khusus untuk politik. Dengan begitu pengusaha ikut terlibat dalam fungsi pendidikan politik”.

     Namun nyatanya 1 bulan sebelum pilkada, media hanya fokus terhadap Pilkada DKI Jakarta saja, sedangkan sosialisasi dan kampanye di tiap daerah juga masih sepi-sepi saja. Lalu bagaimana demokrasi dapat berjalan dengan baik jika tidak ada koherensi antara masyarakat, calon pimpinan kepala daerah dan pihak penyelenggara pilkada. Masyarakat selalu diharapkan bisa menjadi pemilih yang cerdas, kritis, dan antusias terhadap segala rangkaian acara yang diselenggarakan oleh panitia penyelenggaran pilkada. Namun apadaya jika yang “dikritisi” tidak ada.

     Ketika pilkada di depan mata dan panitia penyelenggara masih ingin berjuang untuk pelaksanaan pesta demokrasi yang ideal, maka solusi yang efektif dan efisien atas kondisi/ permasalahan tersebut adalah dengan menyebarkan selebaran tentang calon pemimpin daerah yang memuat nama, riwayat hidup, visi-misi, dan program kerja yang ditawarkan. Penyebaran dapat diatur secara teknis, misalnya dengan koordinasi antara kecamatan, kelurahan, RW, dan RT supaya dapat sampai ke masyarakat.

     Sosialisasi dengan cara seperti itu akan lebih efektif di waktu yang mendesak, meskipun juga ada kekurangannya misalnya seperti tidak sampainya selebaran tersebut ke tangan masyarakat karena malas untuk membagikan atau hambatan lain. Namun ditinjau dari benefit & cost– nya memang lebih murah dan dapat menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih. Bagi masyarakat kota yang memiliki banyak kesibukan di luar rumah, kemungkinan besar tidak bisa ikut semacam sosialisasi pilkada yang diadakan di kelompok PKK, kelurahan, atau kecamatan. Maka dengan cara mendapat selebaran tentang profil calon-calon pemimpin daerahnya, masyarakat dapat membaca, mengetahui, dan dapat menjadi pertimbangan dalam memilih. Bagi masyarakat pedesaan pun juga bermanfaat untuk dapat disampaikan ke keluarganya, misalnya: Ibu-ibu PKK yang mendapat selebaran profil calon dapat membawanya kerumah dan disosialisasikan lebih lanjut ke keluarganya untuk dapat dipertimbangkan dan dikritisi tentang visi-misi dan rencana calon pemimpin daerah.

     Kedepan, tentunya kita berharap sosialisasi lebih matang lagi, selaras dengan prinsip-prinsip pemilu/pilkada. Selain itu, masyarakat juga dapat menjadi pemilih yang cerdas dalam memilih pemimpin serta terjalin koordinasi yang baik antar stakeholder, agar pesta demokrasi dapat berjalan semarak dan demokratis.

IMG_9111

Retno Setianingrum

Mahasiswa Ekonomi Islam 2015, Universitas Diponegoro

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *