Pohonmu Mati, Kau Juga Mati

afnurul-widya-permata

     Setiap larutan dalam kimia memiliki titik jenuh. Sama halnya dengan manusia, semua orang mempunyai tingkat kejenuhan yang berbeda-beda. Jenuh datang saat aktivitas yang dilakukan tidak memiliki gairah hidup. Hal ini harus segera dihilangkan agar tujuan hidup dapat tercapai. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi jenuh salah satunya yaitu back to nature. Menurut Albert Einstein, “Our task must be to free ourselves… by widening our circle of compassion to embrace all living creatures and the whole of nature and it’s beauty.” Membebaskan diri dengan cara merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam. Maka keindahan akan terlihat di depan mata.

     Tidak asing lagi kita mendengar istilah “Back to Nature”. Secara umum istilah tersebut memiliki arti kembali ke alam. Hutan identik dengan alam dan pohon bagian dari hutan. Dalam bukunya yang berjudul The Raven Cycle, Maggie Stiefvater menuliskan “If I were a tree, I would have no reason to love a human.” Ya, pohon tidak memiliki alasan untuk mencintai manusia. Demikian pula manusia yang harus mencintai pohon tanpa alasan. Seluruh kehidupan makhluk di dunia ini bergantung pada oksigen. Gas O2 ini berasal dari tumbuhan yang memiliki klorofil. Sebagai produsen oksigen satu-satunya di bumi, organisme autotrof ini merupakan awal dari terciptanya keseimbangan ekosistem.

     Satu pohon sejuta manfaat. Dalam piramida makanan, komposisi biomassa yang terbesar terdapat pada produsen yang menempati posisi dasar. Demikian juga jumlah energi yang terbesar terdapat pada dasar dari piramida. Semakin besar dasar segitiga maka semakin besar pula piramida makanan yang akan terbentuk. Dengan melihat piramida makanan kita dapat mengetahui bahwa pohon amatlah penting bagi penyeimbang kehidupan di alam semesta. Apabila jumlah pohon sedikit akan berakibat mengecilnya bentuk piramid. Hal ini berarti semakin sedikit pohon, energi untuk makhluk hidup akan berkurang. Lewat pohonlah kelestarian alam dapat berlangsung.

     Berdasarkan WWF (World Wide Fund for Nature) tahun 2015, sebesar 73,7% Indonesia terdiri atas hutan. Namun kini hutan itu sebagian hilang. Setiap tahunnya mengalami kerusakan akibat ulah ketamakan manusia. Diperkirakan pada tahun 2020 hanya tersisa 32,6% saja. Kerusakan itu berimbas pada semua makhluk hidup yang ada di Indonesia bahkan dunia. Hutan sebagai habitat asli hewan kini lenyap dan mereka pun ikut binasa. Manusia rakus meluap, bencana datang tahu rasa.

     Tidak dapat dipungkiri waktu terus berjalan dan bumi kita sudah tua. Perubahan alam pun turut terjadi seiring bertambahnya usia bumi. Manusia sebagai makhluk paling sempurna hendaknya menggunakan akal dan pikiran secara sehat dalam setiap tindakan. Jangan main-main dengan alam. Apabila alam memainkan kita, betapa dahsyatnya dampak yang ia berikan. Manusia itu hanya seonggok daging yang lemah. Sekali terlumat habislah dia.

     Sesuatu yang hilang pasti akan kembali jika ada usaha untuk mencarinya. Hutan yang hilang itu dapat kembali. Kita, manusia hebat, masih ada waktu untuk memulihkan hutan rusak yang ada di Indonesia. Hewan yang terancam punah, keanekaragaman hayati yang hampir tandas, dan manusia yang menurun kesehatannya akan berkurang. Menanam satu pohon berarti menabung sejuta manfaat. Berawal dari satu orang menanam pohon akan memberikan kebaikan kepada seluruh umat manusia. Selama pohon itu hidup dan terus tumbuh, amal yang kita berikan juga terus mengalir hingga akhir hayat. Dari tanah kembali ke tanah. Pohon adalah sumber kehidupan di dunia ini. Keseimbangan alam akan tetap terjaga jika kita senantiasa mengingat sebuah pohon yang kita tanam. Sayangi pohonmu seperti menyayangi diri sendiri. Pohonmu mati, kau pun mati. Salam Lestari!

1-afnurul-widya-permata

 

 

 

 

Afnurul Widya Permata

Mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan 2014, Universitas Diponegoro

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *