Prodi Ekonomi Islam, Anak Baru FEB Undip

Oleh: Eka dan Puspa

Semarang (23/7) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) pada tahun ajaran 2014/2015 membuka program studi baru yaitu Ekonomi Islam. Prodi ini rencananya akan di launching pada bulan September 2014 bersamaan dengan diadakannya Internasional Islamic Converance serta call for papers. Pembukaan prodi baru di FEB Undip ini menyusul Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Indonesia yang sudah terlebih dahulu membuka prodi Ekonomi Islam.

Menurut Mohamad Nasir, Dekan FEB Undip, ide membuka prodi Ekonomi Islam ini muncul sejak tahun 2011. Akan tetapi, karena proses yang cukup panjang mulai dari perijinan, hingga belum adanya nomenklatur serta belum terpenuhinya beberapa persyaratan untuk membuka prodi baru, sehingga prodi Ekonomi Islam baru bisa dibuka tahun ini setelah mengantongi ijin dari Dikti.

Proses penjaringan mahasiswa baru untuk prodi Ekonomi Islam rencananya dilaksanakan melalui Ujian Mandiri (UM-S1) dan Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi (UMB-PT). Tercatat sebanyak 440 orang mendaftar melalui UM Undip, namun hanya 20 orang yang akan diterima melalui jalur ini. Sedangkan, ujian tertulis jalur UMB yang akan dilaksanakan 3 Agustus 2014 juga akan menampung sebanyak 20 orang. Sehingga, angkatan pertama prodi Ekonomi Islam ini berjumlah 40 mahasiswa.

“Kami ingin menyediakan sumber daya yang berkompeten dalam skala nasional maupun global yang kaitannya dengan Ekonomi Islam,” terang Nasir ketika ditanya perihal visi prodi Ekonomi Islam.

Sementara itu, untuk mencapai visi tersebut, telah disiapkan kurikulum untuk menunjang proses belajar mengajar pada prodi Ekonomi Islam. Kurikulum tersebut merupakan modifikasi dari ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi.Sedang mata kuliah yang ditawarkan diantaranya Ekonomi Moneter Islam, Manajemen Keuangan Syariah, Auditing Syariah, dsb. Tak hanya itu, FEB Undip juga mulai melakukan kerjasama dengan Bank Indonesia, Perbankan Syariah, Organisasi Kemasyarakatan Islam maupun Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) untuk mendukung pengembangan prodi baru ini.

Pembukaan prodi Ekonomi Islam ini diakui Darwanto, ketua panitia, menemui beberapa kendala. Mulai dari kendala eksternal yaitu proses pengajuan ijin penyelenggaraan pendidikan kepada Dikti yang berubah dari Ekonomi Islam menjadi Ekonomi Syariah karena belum ada nomenklaturnya. Hal ini membuat penitia perlu menyusun learning outcome.

“Proses pembuatan learning outcome ini hampir setahun. Ini semacam proposal kecil pembukaan prodi. Waktu itu Ekonomi Islam belum punya kodifikasi, tapi ketika proses pembuatan learning outcome itu selesai, eh Ekonomi Islam itu keluar,” jelas Darwanto.

Tak hanya itu, perolehan surat dukungan senat serta tenaga pengajar yang masih minim juga merupakan kendala internal yang dihadapi selama proses pembukaan prodi bari ini. Namun demikian, kini FEB telah menyiapkan sedikitnya enam dosen dan rencananya akan mendapat tambahan tenaga pengajar dari perguruan tinggi lain. Sehingga pada September yang akan datang prodi Ekonomi Islam siap untuk di-launching.

Nasir berharap, dengan dibukanya prodi Ekonomi Islam ini dapat memberikan wacana baru bagi bangsa Indonesia dan peluang bisnis yang lain diluar  ekonomi konvensional. Senada dengan Dekan FEB, Darwanto pun berharap pembukaan prodi baru ini sebagai salah satu cara mencapai misi pengembangan ilmu. (nq)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *