Public Hearing Kedua: Sarana Penyampaian Aspirasi Mahasiswa Ekonomi Islam

ekis

FEB Undip (2/9) – Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam (HMEI) melaksanakan public hearing kedua yang berlangsung di hall gedung C FEB Undip. Acara yang berlangsung mulai pukul 13.00 – 16.00 WIB ini turut menghadirkan Darwanto selaku ketua program studi Ekonomi Islam serta beberapa akademisi seperti Ariz Anwaril uttaqin, Shoimatul Fitria, Arif Pujiyono, dan Marwini. Acara yang turut dipandu oleh Faiq Husni Murdanto selaku moderator juga menghadirkan seluruh mahasiswa Ekonomi Islam FEB Undip mulai dari angkatan 2014 sampai 2016. “Acara public hearing ini merupakan bentuk komunikasi antara mahasiswa dengan pengelola,” ujar Darwanto.

Adapun keluaran yang diharapkan ialah mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi, kebutuhan, maupun hambatan yang dihadapi mahasiswa program studi Ekonomi Islam dalam mengikuti perkuliahan. Selain itu, pengelola program studi Ekonomi Islam mampu menjelaskan dan memberikan gambaran terkait perkuliahan seperti riset ataupun pengabdian.

Beberapa poin yang menjadi bahan perbincangan seperti referensi buku seputar perkuliahan yang masih sulit dijumpai di perpustakaan FEB Undip. Terdapat pula materi perkuliahan yang dirasa hanya pengulangan dan kurang sesuai seperti mata kuliah Akuntansi Syariah yang dirasa hanya pengulangan dari mata kuliah Fiqh Muamalah.

Salah satu mahasiswa Ekonomi Islam 2014, Hamam, menanyakan kesesuaian mata kuliah Filsafat Islam dengan program studi Ekonomi Islam. Mahasiswa Ekonomi Islam 2014 juga cukup menyayangkan keputusan fakultas terkait penjurusan yang langsung dijuruskan ke ekonomi pembangunan serta kesiapan program studi untuk menjadikan TOAFL (Test of Arabic as a Foreign Language) sebagai salah satu syarat kelulusan. Hal ini dikarenakan mahasiswa hanya mendapat mata kuliah Bahasa Arab selama satu semester yang dirasa belum cukup.

“Sebenarnya Filsafat Islam itu sudah dirasa sesuai dengan program studi Ekonomi Islam. Filsafat Islam itu bukan mencari kebenaran tentang Islam, karena Islam memang sudah benar. Mata kuliah ini sebenarnya bertujuan untuk mengkaji Islam secara mendalam,” jelas Marwini. Adapun terkait masalah penjurusan, hal ini sudah menjadi persyaratan mendasar untuk membuka penjurusan baru yaitu jumlah minimal mahasiswa yang mengajukannya sebanyak lima belas orang. Hal ini tentu menjadi dilema tersendiri dikarenakan jumlah mahasiswa Ekonomi Islam 2014 yang hanya berjumlah dua puluh lima orang. Selain itu, Ekonomi Islam yang masih berada di bawah naungan jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan masih terkendala akan kesiapan dosen. Maka dari itu, penjurusan langsung yang mengarah kepada ekonomi pembangunan dirasa sudah baik.

Poin lainnya yang dibahas ialah ruang kelas yang kecil dan kurang optimalnya letak papan tulis dan layar proyektor sehingga mahasiswa kesulitan melihat materi yang dijelaskan oleh dosen. Adapun pendingin ruangan, RFID, dan LCD juga kerap tidak berfungsi dengan baik.

Faiq Husni Muranto, selaku moderator dan ketua HMEI, memaparkan bahwa dengan diadakannya public hearing ini diharapkan baik dari pihak prodi dan mahasiswa bisa saling mengerti, memahami, dan membantu untuk mengembangkan program studi Ekonomi Islam. Adapun ketua program studi dan para mahasiswa Ekonomi Islam menyambut baik acara ini.

Reporter : Cynthia Farah Sakina

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *