Reformasi dan Transisi Kebijakan

Apa yang terbayang dibenak kita ketika kita mendengar kata reformasi? Reformasi adalah turunnya rezim orba. Kita semua mengetahui bahwa pada tanggal 20 Mei 1998 rezim ini dilengserkan oleh kekesalan rakyat akibat semakin memburuknya ekonomi Indonesia. Nilai rupiah merosot dari yang mulanya 1.000 rupiah per dollar menjadi 11.000 rupiah per dollar. Perubahan yang cukup drastis ini membuat semua harga melambung tinggi. Para akademisi khususnya di lingkungan mahasiswa sudah tidak lagi punya kesabaran atas apa yang dilakukan oleh rezim orba.

Tak dapat dipungkiri bahwa pada rezim ini, Indonesia mencapai beberapa prestasi. Salah satunya swasembada pangan. Jika dilihat lagi apakah swasembada pangan ini membuat para petani menjadi sejahtera? Penulis memang tidak mengalami masa ketika orba berkuasa, sehingga tidak bisa menggambarkan keadaan pada saat itu.

Menurut salah satu penulis kompasiana, Khairunisa Rangkuti, pada saat itu para petani ‘dikekang’ untuk bekerja dibawah pemerintah. Para petani diberikan modal dan hanya boleh menanam tanaman tertentu. Layaknya sebuah perusahaan, Indonesia mendapatkan uang untuk diberikan modal kepada petani dengan hutang luar negeri.

Pertanian memang bisa berkembang saat itu. Tapi siapa yang mendapatkan kesejahetraan dari sektor pertanian? Petani saat itu hanya mendapatkan kesejahteraan berupa harga-harga yang terjangkau dan hanya sebatas itu saja. Lantas apa kabar hutang luar negeri Indonesia? Apakah hasil prestasi swasembada digunakan menutup hutang-hutang ini? Kita semua pasti sudah mengetahui bahwa larinya keuntungan atas prestasi swasembada ini adalah ke perut-perut penguasa dan juga orang yang ada didekatnya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabanya adalah sistem kebijakan yang dibangun orba pada saat itu adalah dengan berbasis militer. Kebijakan berbasis militer ini memang memiliki keunggulan berupa instruktif, jelas dan tegas. Rezim orba memang sudah baik dalam menjalankan instruksi dan kejelasan progam. Di sisi lain, rezim ini telah menyelewengkan ketegasan yang dimiliki oleh sistim kebijakan.

Rezim orba akan langsung mendindak orang-orang yang tidak patuh kepada pemerintah. Hal ini mengakibatkan pemerintah menjadi overpower. Tidak ada yang dapat mengawal kebijakan pemerintah. Sehingga pemerintah dapat semaunya dalam bertindak. Hingga yang kita ketahui banyak sekali praktik nepotisme yang terjadi di dalam tubuh pemerintah.

Semua hal yang berbau pemerintahan pasti korup. Mulai dari perusahaan pemerintah seperti kereta api hingga pada kalangan presiden. Pada saat itu orang yang bisa masuk pemerintahan dapat gagah berani melangkan diantara para petani dan buruh karena mereka merasa lebih tinggi derajatnya, dapat membeli barang-barang mewah yang disadari atau tidak, uang yang mereka gunakan semuanya berasal dari ‘rampasan’ hasil kerja para buruh petani. Para petani pun sadar atau tidak sadar sebenarnya telah dibodohi dengan iming kestabilan harga dan swasembada yang digembar-gemborkan pada saat itu. Padahal petani tidak menikmati melainkan hanya sedikit dari apa yang berhasil Indonesia capai saat itu.

Mungkin jika ditanya kepada orang-orang dahulu apakah senang berada saat rezim orba. Jawaban mereka mayoritas akan mengatakan “ya”. Mereka bisa berkata seperti itu karena memang harga-harga sembako pada saat itu relatif murah dibanding dengan harga-harga sembako saat terjadi maupun pasca reformasi. Hanya saja mereka tanpa sadar telah dikelabuhi oleh pemerintah. Sistem kebijakan yang dikembangkan oleh pemerintah sendiri sebenarnya telah mematikan jiwa-jiwa kritis pada rakyatnya.

Kita yang telah menikmati zaman setelah reformasi seharusnya bersyukur dan bisa lebih mengembangkan budaya kritis. Akan tetapi budaya kritis kita juga harus diimbangi dengan tanggung jawab, sehingga tidak terjadi apa yang kita alami saat ini.

Bolehlah kita kritis, justru itu harus. Akan tetapi seharusnya kita menyampaikan dengan santun sehingga kritik yang kita dengungkan bersifat membangun bukan memecah belah bangsa.

foto edents_170519_0013

Abdan Husnan Zulkaisi

Mahasiswa S1 Manajemen 2015, Universitas Diponegoro

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *