Saya Bukan Kurir Absen : Dia Libur, Kamu Hancur

img-20161024-wa00021Undip (24/10) – Sebagai mahasiswa tentu kita sudah tidak asing dengan perilaku titip absen. Perilaku tercela ini sudah sering dilakukan dan lebih parahnya lagi dianggap ‘wajar dan lazim’ oleh para mahasiswa. Bahkan, sekelas Pegawai Negeri Sipil pun yang notabene adalah abdi Negara sering melakukan perbuatan ini.

Berangkat dari fenomena ini, sekelompok mahasiswa dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Undip menyelenggarakan kampanye bertajuk Anti Kurir Absen. “Jadi kami mengajak mahasiswa untuk berkomitmen  untuk tidak menjadi kurir absen di kelas. Jadi saat mereka masuk ke kelas, mereka tidak mau malsuin tanda tangan temannya,” tutur Efrilia Wahyu, salah seorang mahasiswa penyelenggara kampanye ini. Kampanye ini merupakan bagian dari kompetisi yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bertajuk Integritas Kampus.

Mengusung tagline ‘Saya Bukan Kurir Absen : Dia Libur, Kamu Hancur’, kampanye ini memiliki sasaran yaitu mahasiswa Undip khususnya di kampus FISIP. Akan tetapi, riset dari kampanye Anti Kurir Absen ini melibatkan sampel seluruh fakultas di Undip. “Jadi di Undip ini terdapat 70 persen mahasiswa yang pernah melakukan tindakan pemalsuan tanda tangan di kelas,” imbuhnya. Untuk di FISIP sendiri, kampanye ini dilakukan lebih masif seperti dengan mengganti desktop komputer, mengganti cover buku presensi, hingga melakukan lobby ke pihak dekanat untuk mendukung aksi ini. Ia juga mengusulkan kepada pihak dekanat FISIP untuk melakukan absen panggilan guna mencegah aksi titip absen.

Mahasiswa yang datang ke kotak Anti Kurir Absen akan diminta untuk men-scan barcode akun resmi Anti Titip Absen di sosial media Line. Setelah itu, mereka akan diberi gelang sebagai bukti telah berpartisipasi dalam kampanye ini.

Kampanye ini menargetkan agar angka titip absen di lingkungan kampus Undip turun dari 70 persen menjadi 0 persen. Caranya yakni dengan melakukan monitoring dan terjun langsung mengawasi  30 sampel kelas di FISIP setiap minggu. “Misal anak yang hadir 40, tapi di absen ada 42 (mahasiswa). Nah yang dua orang itu dari mana? Kan kehadirannya dipalsukan,” jelasnya.

Pertentangan terhadap kampanye ini justru datang dari kalangan mahasiswa sendiri. Mereka mengeluhkan sudah tidak bisa melakukan titip absen sejak Efril dan kawan-kawan melakukan kampanye ini. “Ya lebih ke cibiran-cibiran sih ya. Kalau kendala dari pihak kampus sih tidak ada, 100 persen mendukung,” ungkap mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Undip 2014 ini. Ke depan, Efril berharap agar kampanye singkat ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap mahahsiswa Undip. “Karena kecurangan sekecil ini juga bisa berdampak besar di masa depan,” tutupnya.

Reporter : Henty Eka Palupy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *