Sejarah Sebagai Rentetan Inspirasi Bela Negara

dian-priastiwi

     Indonesia menjadi sebuah negara yang merdeka melalui tahapan sejarah. Bukan pula karna sejarahnya, melainkan orang-orang yang ikut terlibat dalam pembentukan sejarah itu sendiri.  Mereka adalah para pahlawan. Kata merdeka tak ubahnya sebuah perjuangan bagi pahlawan. Tak kenal lelah dan pantang menyerah menjadi prinsip baru yang mereka tanamkan dalam pikiran. Mereka dengan gigih berdiri walau hanya berbambu runcing melawan senjata modern milik penjajah. Satu hal yang perlu diketahui bahwa semua keberanian itu karena mereka punya angan, angan jika perjuangan mereka akan melahirkan negara besar Indonesia. Buah dari pemikiran dan tangan kasar  yang mengepalkan senjata menghasilkan hari dimana proklasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Tonggak awal kebebasan bangsa ini dari kekangan penjajahan, kemudian lahirnya negara baru Neagara Indonesia.

Langkah pertama telah dipijakkan dan membenahi Indonesia masih menjadi PR tersendiri. Bukan pemerintah tetapi seluruh warga negara Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan yang telah diperoleh. Namun tak serta merta lancar, setelah tiga tahun kemerdekaan tepatnya pada November hingga Desember 1948, Belanda kembali melancarkan serangan militer terakhir yang dimaksudkan untuk meruntuhkan Republik Indonesia. Pada agresi militer kedua ini, Belanda berhasil menduduki Yogyakarta yang saat itu merupakan ibukota RI dan menawan presiden, wakil presidan dan beberapa pejabat tinggi lainnya. Indonesia mengalami kekosongan pemerintahan.

     Para tentara Indoesia dengan sigap melakukan sidang kabinet untuk mengisi kekosongan pemerintahan. Hasilnya memutuskan memberikan mandat kepada  Mr. Syafruddin Prawiranegara selaku Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Lalu untuk menghormati peristiwa inilah, pada 19 Desember ditetapkan sebagai Hari Bela Negara. Bela Negara berarti mendahulukan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi atau kelompok.

     Pembelajaran yang bisa diambil dari rentetan peristiwa sejarah ini adalah bagaimana perjuangan memerdekakan dan mempertahankan kemerdekaan itu sendiri. Tak mudah, tapi setelah jalan yang ditempuh para pahlawan, apakah layak generasi sekarang mengeluh meneruskan perjuangan mereka. Tak keluhan yang terdengar saat ini, tapi kerusakan. Dengan teganya negara yang diperjuangkan ini dihancurkan oleh penerusnya sendiri. Moral bangsa ini mati suri, korupsi, penyuapan hingga kekerasan menyebar ke pelosok negeri. Kemanakah arah Indonesia saat ini ?

     Generasi baru ini perlu tengok mundur sejarah Indonesia. Banyak hal yang bisa diambil dari langkah-langkah menuju Republik Indonesia. Peristiwa Rengasdengklok misalnya, begitu membanggakannya para pemuda yang berani mengambil tindakan bahkan harus membangkang dari para tetua mereka. Bukan dalam artian negatif bertindak tanpa berpikir, mereka melihat peluang yang tak diliat para senior mereka. Hasilnya adalah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para pemuda itu berpikir, berinovasi, mengeluarkan kemampuan mereka. Pemuda saat ini pun bisa membanggakan, asah kemampuan diri, negara ini tak akan mati jika masih ada pemuda yang berpikir.

     Selanjutnya, peristiwa bela negara  pada agresi militer kedua yang membuktikan bahwa orang-orang negara ini masih siap membusungkan dada mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, mereka teguh berpegang pada keutuhan kemerdekaan bukan individualisme. Lalu, semangat bela negara itu luntur seiring tergerusnya idealisme bangsa ini. Sikap materialisis yang membuat orang saling memperkaya diri tanpa mempedulikan sekitarnya menjadi potret kenyataan pahit hasil perjuangan memerdekakan negara ini. Bagaimana generasi ini saling memperebutkan kursi tanpa tahu makna jabatan. Negara ini perlu para pemimpin dan calon pemimpin untuk bisa berkaca pada sejarah.

     Dengan pupusnya rasa bela negara ini, nilai-nilai sejarah seyogyanya perlu ditanamkan kembali. Belajar sejarah bukan hanya menghafal nama pahlawan, tapi setiap nilai-nilai yang coba mereka tanamkan untuk generasi dahulu maupun sekarang. Sungguh memprihatinkan generasi ini telah kehilagan jatidiri darimana kemerdekaan ini berasal. Bagaimana generasi penerus akan memiliki jiwa nasionalis kalau mereka sendiri tidak memahami sejarah bangsa.

     Menghayati peristiwa sejarah perjuangan bangsa sebenarnya bukan hanya sekedar mengingat rentetan peristiwa pada masa silam tetapi sebagai sumber inspirasi yang memberikan penerangan sebagai tuntunan tindakan manusia dalam kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. Tugas generasi ini masih panjang, menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

SAMSUNG CSC

Dian Priastiwi

Mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan 2014, Universitas Diponegoro

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *