Selamat Ulang Tahun Republik Tirani!

fana

Semarak dan antusiasme Rakyat Indonesia di kala menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Upacara bendera di setiap instansi dan penyelenggaraan lomba di pelosok daerah merupakan bentuk perayaan yang lumrah dilakukan. Hal tersebut diselenggarakan guna memberikan penghormatan atas jasa para pahlawan, mengingat betapa kerasnya perjuangan untuk memproklamasikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Selain itu, selebrasi juga dilakukan dalam rangka mengingat betapa bahagianya Rakyat Indonesia pada hari itu, yang pada ‘akhirnya’ dapat terbang bebas dan terlepas dari belenggu penjajahan. Pada tahun 2016 ini, Indonesia genap berusia 71 tahun. Namun permasalahannya, apakah Indonesia sudah benar-benar ‘merdeka’? Apakah kita sebagai bangsa yang berdaulat sudah benar-benar terlepas dari ‘penjajahan’?

Nyatanya sudah 71 tahun negara kita berdiri, akan tetapi selama itu pulalah tertumpuk segudang permasalahan kompleks yang tidak terselesaikan hingga kini. Salah satu masalah yang sulit untuk disembuhkan adalah korupsi. Pamor korupsi di Indonesia bahkan telah mengalahkan artis kawakan, karena hampir seluruh lapisan masyarakat fasih tentang segala pemberitaan mengenai para koruptor di berbagai kasus yang berbeda. Sebut saja kasus Hambalang, simulator SIM, dan Century yang sudah sangat familiar di telinga Rakyat Indonesia.

Menurut data Indeks Persepsi Korupsi atau Corruption Perception Index yang dirilis oleh Transparency International, Indonesia memperoleh skor CPI sebesar 36 dari angka maksimal 100. Hal ini bukanlah yang patut dibanggakan, mengingat dari 168 negara yang diamati Indonesia hanya berhasil menduduki peringkat 88 sebagai negara terbersih dari korupsi. Posisi tersebut berada di bawah Singapura yang memiliki skor CPI 85, Malaysia dengan skor 50, dan Thailand dengan skor 38. Korupsi di Indonesia sudah menjadi budaya yang mendarah daging dan melekat di tubuh para petinggi negeri. Kurangnya tanggung jawab para pemimpin negeri ini menjadikan korupsi sebagai penyakit akut yang menggerogoti tulang rusuk bangsa, membuat rakyat tercekik, serta berimbas pada terhambatnya pembangunan negara dan melejitnya angka kemiskinan.

Belum selesai dengan permasalahan korupsi, negeri kita juga dihadapkan pada masalah serius lainnya yaitu narkoba. Layaknya korupsi, narkoba menjadi momok menakutkan bagi negara manapun karena sifatnya yang merusak dan membuat bobrok generasi bangsa. Berbicara tentang narkoba, Indonesia tidak kalah pamornya dalam mencuatkan berbagai macam kasus, mulai dari penyalahgunaan, pengedaran, pemakaian, hingga penyelundupan narkoba. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan bahwa transaksi narkotika di Indonesia menduduki peringkat tertinggi se-ASEAN. Dari 100 persen transaksi, 40 persennya berada di Indonesia. Besarnya transaksi tersebut tidak terlepas dari jumlah pecandu narkoba di Indonesia yang mencapai angka hingga lima juta jiwa dan terdiri dari rakyat usia 10 hingga 59 tahun. Terlebih lagi, BNN juga mendata bahwa setiap tahunnya terdapat 15 ribu pecandu narkoba yang meninggal dunia. Angka tersebut setara dengan 40 sampai 50 jiwa per hari yang nyawanya terenggut akibat penyalahgunaan narkoba. Sebuah ironi yang mendalam, bukan?

Inikah wajah negeri kita yang sebenarnya? Tentu tidak. Indonesia terlahir dari darah para pejuang yang memiliki mental kuat dan tingkat intelektualitas di atas manusia normal.  Era di mana para pejuang melawan kolonialisme serta imperialisme sudah berakhir karena kita sudah menjadi negara yang bebas dan berdaulat. Namun jangan mengaggap bahwa perjuangan telah selesai. Sejatinya kini Indonesia telah memasuki zaman baru yaitu era melawan tirani yang menggerogoti bangsa secara perlahan dan mengarahkan ke kiblat kehancuran. Seluruh instrumen dan bagian dalam tubuh suatu negara memiliki peran penting dalam memerangi penjajahan dalam bentuk apapun. Kita semua dapat memenangkan kembali peperangan semu ini, apabila kita memiliki mental dan semangat juang yang setara dengan para pahlawan terdahulu.

Mari kita rayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengingatkan diri sendiri, sebanyak apa ‘pekerjaan rumah’ yang belum terselesaikan oleh para pemimpin negeri ini. Jangan biarkan berbagai persoalan menjadi bias dan terlupakan. Ayo bersama-sama kita berjuang untuk mendapatkan penyelesaian, agar negeri ini terhindar dari Republik yang dipenuhi oleh tirani.

Pada momentum peringatan kemerdekaan ini, mari tanamkan dalam hati kita untuk tidak menjadi generasi penerus bangsa. Mengapa? Karena menjadi generasi penerus bangsa berarti meneruskan budaya korupsi dan semua permasalahan yang ada di dalamnya. Maka jadilah generasi pengubah bangsa, yang membuat Indonesia menjadi  lebih baik, terbebas dari tirani, dan benar-benar merdeka.

Oleh : Fana Insanu

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *