Seribu Hari Pertama Pemenuhan Gizi Bagi Masa Depan

Dewi-Hastuti1

     Keberadaan generasi penerus, merupakan salah satu faktor penting terlebih bagi keberlangsungan suatu bangsa maupun negara. Keberadaan mereka, bahkan tidak hanya sekedar sebagai generasi pemuas kebutuhan zaman yang semakin hari semakin gila saja, atau bahkan sebagai generasi yang hanya ikut-ikutan perkembangan zaman. Lebih dari itu, generasi cemerlang merupakan generasi yang diharapkan dapat mengubah nasib bangsanya. Artinya, dari merekalah nasib bangsa ditentukan mau dibawa kemana nantinya. Kalau sudah begitu, mereka pastinya berhak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Gizi seimbang salah satunya.

     Menilik dari pengertian harfiahnya, gizi atau nutrisi merupakan suatu zat yang berguna sebagai komponen pembangun tubuh manusia bahkan dapat mempertahankan maupun memperbaiki jaringan-jaringan tubuh agar fungsi tubuh manusia itu sendiri dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Sedangkan, gizi seimbang, secara sederhana dapat diartikan sebagai nutrisi dan zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, tidak berlebihan juga tidak kekurangan.

     Malnutrisi, menjadi salah satu dari sekian banyak masalah gizi yang kerap melanda penduduk, terlebih anak-anak di negara berkembang. Selain memperhatikan makanan apa saja yang baik bagi tubuh, hal yang tak kalah penting yaitu pemenuhan gizi di awal kehidupan.

Malnutrisi di negara berkembang

Jika kebutuhan gizi seseorang tidak terpenuhi dengan baik, maka seseorang tersebut akan mengalami malnutrisi. World Health Organization (WHO) mendefinisikan, malnutrisi sebagai ketidakseimbangan seluler antara pasokan nutrisi, energi, serta kebutuhan tubuh untuk menjamin pertumbuhan, pemeliharaan, dan fungsi tertentu. Dengan kata lain, malnutrisi bisa diartikan sebagai kondisi medis serius pada seseorang akibat tidak mendapatkan semua nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Sebagian orang mungkin lebih mengenalnya dengan sebutan kurang gizi. Kurang gizi sendiri, bisa terjadi karena adanya defisiensi zat gizi makro (karbohidrat, protein, dan lemak) serta defisiensi mikro (vitamin dan mineral).

     Hal ini kerap terjadi di negara berkembang, dikarenakan adanya faktor yang masih mendominasi dan mempengaruhi kondisi gizi di negara tersebut. Diantaranya yaitu faktor kemiskinan, pendidikan rendah, ketersediaan pangan yang kurang, kesempatan kerja yang tidak pasti serta pelayanan kesehatan yang kurang memadai.

Pemenuhan gizi di awal kehidupan

Walaupun hanya sekilas, paragraf di atas sudah memberi sedikit pengetahuan mengenai masalah gizi yang kini banyak ditemui, ya malnutrisi salah satunya. Selanjutnya, akan dijelaskan sekilas mengenai pemenuhan gizi di awal kehidupan.

     Awal kehidupan disini, berarti seribu hari pertama manusia berada dalam kehidupan. Dimulai dari janin dalam rahim ibu hingga menginjak usia balita berusia dua tahun. Pemenuhan gizi pada masa ini, menjadi hal penting dan patut diperhatikan, karena hal ini diyakini sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak serta dapat menjadi modal penting untuk membangun hidup sehat, cerdas dan produktif  bagi kehidupan mereka kedepan. Pemenuhan gizi pada masa ini juga berperan penting untuk membentuk fondasi kapasitas kognisi dan kecerdasan anak.

      Selanjutnya, menerapkan gizi seimbang guna mencetak generasi cemerlang yang terhindar dari berbagai masalah gizi yang sejatinya akan menghambat pertumbuhan, hal yang sangat perlu diperhatikan adalah pola makan serta memilih makanan apa saja yang baik bagi tubuh, dalam hal ini yaitu makanan yang sarat akan gizi. Mengkonsumsi pangan hewani, sayur dan buah salah satunya. Namun, yang jadi masalah saat ini yaitu masih rendahnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi pangan hewani, sayur dan buah. Menurut Panduan Gizi Seimbang (Kemenkes, 2015) yang menganjurkan agar mengkonsumsi 2-4 porsi atau sekitar 100-200 gram pangan hewani, 3-4 porsi atau sekitar 300-400 gram sayur dan 2-3 porsi atau sekitar 100-150 gram buah untuk setiap harinya guna memenuhi kebutuhan protein, vitamin, mineral serta serat agar mencapai gizi yang seimbang. Akan tetapi, pada kenyataannya saat ini konsumsi sayur dan buah baru sekitar seperempat dan jumlah konsumsi pangan hewani baru sekitar tiga perempat dari jumlah yang telah dianjurkan oleh Kemenkes diatas.

     Sejatinya, dengan mengkonsumsi tiga makanan sumber gizi diatas dapat mencegah terjadinya masalah gizi, mencegah terjadinya kekurangan gizi, mencegah anemia atau penyakit lainnya, serta dapat meningkatkan kemampuan belajar. Akan tetapi, sangat disayangkan jika fakta mengungkapkan jika kesadaran mengkonsumsi tiga sumber gizi tersebut masih rendah.

     Hal lain yang tidak kalah pentingnya yaitu perlunya sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai hal tersebut, serta penuntasan masalah kemiskinan yang menjadi penghambat kemajuan kondisi gizi nomor satu di negeri ini. Alangkah baiknya, masalah tersebut perlu diperhatikan bukan hanya oleh pemerintah saja, melainkan oleh semua pihak dan multi sektor juga. Bukan hanya kemiskinan saja, tapi beberapa faktor seperti yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya pun juga perlu diperhatikan.

     Mewujudkan gizi seimbang untuk generasi yang cemerlang kedepannya, bukan hanya menjadi perhatian pemerintah saja. Karena negara ini tidak hanya milik pemerintah saja, seluruh lapisan masyarakat lainnya pun juga harus ikut berbenah dan peduli bahkan memberikan solusi akan masalah gizi ini.

(4) Dewi Hastuti

 

 

 

 

Dewi Hastuti

Mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan 2015, Universitas Diponegoro

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *