Setetes Air, Wujud Peduli Anda

(2) Dewi-Setyoningrum

     Katanya kita kaya akan sumber daya alam, katanya kita salah satu negara dengan kekayaan yang melimpah, asri alamnya, rukun rakyatnya, dan ragam budayanya. Ya, itulah katanya.  ”Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”.  Begitulah bunyi Pasal 33 Undang- Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, yang bahkan sudah kita ingat di luar kepala.

Kenali Air Bersih

     Air yang seharusnya menjadi konsumsi publik, bebas didapatkan demi kelangsungan hidup, kini kian sulit untuk diperoleh. Orang-orang saling berlomba untuk mendapatkan air bersih, besaran materi dan keringat yang dikeluarkan demi mendapatkannya pun kini sudah tak dipedulikan lagi. Hal terpenting dalam benak mereka adalah bisa minum air bersih dan dapat menlanjutkan kelangsungan hidup. Itulah yang banyak masyarakat fikirkan ketika kemarau kian datang menghampiri.

     Mengutip Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, air bersih adalah air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Problematika Sumber Air Bersih

Berperan dalam peningkatan kualitas hidup, maka penyediaan air bersih dirasakan begitu penting bagi masyarakat. Sebab air merupakan unsur yang vital dalam kehidupan manusia. Ketersediaan air di dunia ini begitu melimpah, namun yang dapat dikonsumsi oleh manusia untuk keperluan air minum sangatlah sedikit. Seperti yang disampaikan Jacques Diouf, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), saat ini penggunaan air di dunia naik dua kali lipat lebih dibandingkan dengan seabad silam, namun ketersediaannya justru menurun.

     Pohon ditebangi, hutan digunduli. Itulah perilaku manusia yang tak peduli dengan alam sekitarnya, tak peduli seberapa sengsaranya anak dan cucunya nanti di masa depan untuk memperoleh air bersih. Akibat perilaku tengil-nya itu, kini kawasan hutan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air (catchment area) telah rusak karena penebangan liar. Laju kerusakan di wilayah sumber air pun semakin merambah luas, baik karena penggundulan di hulu maupun pencemaran di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai). Bagaimana konsep ekonomi dari kesejahteraan akan tercapai, jika sampai detik ini pun nyatanya kebiasaan masyarakat Indonesia yang tengil tidak diimbangi dengan konservasi alam dan reboisasi hutan.

     Sulitnya mendapatkan air bersih baik itu untuk mencuci, memasak, mandi, dan minum, maka dampak lainnya pun kini kian mulai terasa. Khususnya di bidang kesehatan, masyarakat mulai terserang berbagai penyakit, seperti diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat dari konsumsi air yang kurang layak. Salah satu daerah yang terserang diare sepanjang tahun 2016 ialah Kota Pacitan. Menurut Dinas kesehatan (Dinkes) setempat, sepanjang Januari-April 2016 sudah ada 2.460 penderita diare. Dari ribuan penderita tersebut, mayoritas penderitanya adalah anak-anak dan balita. Karena mereka paling rentan terhadap serangan bakteri penyebab diare. Terutama dari makanan dan minuman yang kurang terjaga kebersihannya.

Meminimalisir Langkanya Air Bersih

Pemberlakuan UU Nomor 7 Tahun 2004 telah mempertegas bahwa sektor swasta diperbolehkan untuk mengelola sumber daya air di Indonesia, dan dianggap Pemerintah sebagai solusi untuk pengelolaan sumber daya air. Meskipun nantinya privatisasi semacam ini akan membuat akses masyarakat terhadap air menjadi terbatas dan mahal. Hal ini dikarenakan seluruh biaya pengelolaan, perawatan jaringan air, dan sumber air lainnya bergantung pada pemakaian dalam bentuk tarif.

     Oleh karena itu, mari kita saling berpegangan tangan, saling bergotong-royong, memperbaiki yang bisa diperbaiki, berperilaku hemat selama masih bisa berhemat, untuk menjaga kelangsungan keberdayaan daya dukung, daya tampung, serta fungsi sumber daya air. Jangan sampai yang sehat jadi sakit, dan yang sakit semakin jadi. Karena bagi kita semua, air adalah zat sumber kehidupan yang tak tergantikan oleh senyawa lain. Meski hanya satu liter, atau bahkan satu tetes pun sekalian, air tetaplah penyejuk jiwa.

(2) Dewi Setyoningrum

Dewi Setyoningrum

Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan 2014, Universitas Diponegoro

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *